Selasa, 01 Mei 2018

Tentang Menikah #1: Seni Mengalah

Saat mempersiapkan pernikahan, saya mendapatkan ide untuk meminta tips dalam mengarungi rumah tangga dari sahabat, rekan, atau saudara yang hadir dalam pernikahan kami, dengan cara menyediakan kertas dan meletakkan toples yang saya namai dengan ‘Tip Jar’ di depan pintu masuk.
Beberapa hari setelah resepsi usai, saya mulai membaca satu persatu pesan yang ditulis. Menyenangkan rasanya mendapatkan saran dari orang - orang terdekat kita, karena kita tahu pasti mereka akan memberi saran yang terbaik dari mereka, dan belajar dari pengalaman orang lain akan jauh lebih efisien dibandingkan untuk menunggu belajar dari pengalaman kita sendiri. Dari beberapa saran tersebut, rata-rata yang saya dapatkan adalah saran untuk mengalah dengan pasangan.
Dari buku-buku yang pernah saya baca sebelum menikah, saya sudah cukup memahami bahwa salah satu bekal untuk menikah adalah bagaimana kita belajar mengalah. Dan setelah menikah, pentingnya seni mengalah dalam berumah tangga makin terasa :).

Setelah menikah, kepentingan keluarga menjadi lebih utama dibandingkan kepentingan pribadi.
Bagaimana kita harus mengalah dengan menunda meraih ambisi diri jika kondisi rumah tangga belum memungkinkan, atau bahkan mengurungkannya jikalau ternyata setelah diskusi dengan pasangan hal tersebut kurang sesuai dengan cita-cita bersama.
Bagaimana kita harus mengalah demi kebutuhan pasangan. Bagaimana sang suami membatalkan agenda berlibur dengan rekan sekantor saat sang istri membutuhkannya untuk mengantarkannya memeriksakan kehamilan misalnya. Bagaimana sang istri menunda keperluannya demi mengutamakan kebutuhan suami. Seorang istri wajib memenuhi kapanpun panggilan suami untuk menunaikan hajatnya, meskipun ia sedang di dapur. Bahkan untuk berpuasa sunnah pun, Allah haramkan jika tanpa seizin suami. 

Setelah menikah, keharmonisan keluarga tak mungkin datang tiba-tiba. Ia adalah sesuatu yang harus diupayakan. Karena mencintai, adalah kata kerja.
Bagaimana kita harus mengalah untuk berusaha memahami karakter satu sama lain. Bagaimana kita harus mengalah untuk menerima kekurangan pasangan, kalau perlu kita beri masukan nasihat namun tetap dengan cara yang baik. Bagaimana sang suami harus mengalah untuk bersabar saat sang istri lupa di mana menaruh kunci untuk kesekian kalinya misalnya. Atau bagaimana sang istri harus mengalah untuk bersabar saat sang suami menaruh barang secara sembarangan sepulang kerja.
Bagaimana kita harus mengalah untuk belajar memahami kondisi pasangan.  Bagaimana sang suami harus mengalah untuk meminta maaf pada istrinya yang sedang ngambek meskipun sang suami masih belum tahu apa salahnya. Mungkin sedang PMS :). Atau bagaimana sang istri harus mengalah untuk tidak berkeluh kesah kepada suami jika melihat suaminya sedang kelelahan dan tidak mood sepulang kerja. 
Bagaimana kita harus mengalah untuk menyesuaikan diri kita dengan apa yang disuka atau tidak disuka pasangan. Suami suka masakan pedas istrinya tidak, ya sang istri mengalah untuk belajar membuat sambal. Sang istri penyuka jalan-jalan tapi suami tidak, suami hendaknya mengalah untuk mengantarkan istri :). Suami tidak suka durian tapi istri suka banget, sang istri jangan mengkonsumsi durian saat bersama suami dan berkumur atau menggosok gigi setelah mengkonsumi durian. Istri tidak suka suara dengkuran, suami belajar posisi tidur supaya tidak mendengkur.
.
Yang harus diingat, awas, jangan sampai terbalik. Posisikan diri kita sebagai pihak yang mengalah, bukan sebaliknya. Jangan sampai ada perkataan atau perbatinan seperti ini, ‘Dia kan tahu aku begini-begitu,  harusnya dia maklum dong, bukannya ngomel aja tiap hari’. Jangan, ya! :)

- Repost from zakiyaz

Senin, 02 April 2018

Kepada Perempuan-Perempuan yang Merasa Berbeda

Suatu hari, kita mungkin pernah mendapati diri merasa berbeda dengan perempuan-perempuan lain di sekitar kita karena tidak ada satu pun lelaki yang bisa dengan mudah kita sebut namanya. Kita hanya mendengar mereka bercerita tanpa menanggapinya dengan cerita yang serupa, sebab memang tak ada siapapun yang hadir di hati kita. Lalu, mengapa bersedih? Bukankah memang tidak perlu ada seorang lawan jenis pun yang mengisi semesta hati kita sebelum hari bahagia itu tiba? Sehebat dan sesempurna itulah Allah menjaga, sebab tak ingin ada hati yang berrongga karena kebahagiaan yang belum waktunya.
Suatu hari, kita mungkin pernah mendapati diri merasa tak sama dengan perempuan-perempuan lain di sekitar kita karena tidak ada satu pun lelaki yang namanya muncul pada frequently contacted di ponsel kita. Kita hanya melihat bagaimana mereka berinteraksi tanpa bisa menebak bagaimana rasanya, sebab memang tidak ada seorang pun diantara teman-teman lawan jenis kita yang sering berbalas pesan setiap harinya dengan kita. Kalaupun ada, urusannya adalah tugas kuliah, pekerjaan, bisnis, atau hal-hal penting lainnya yang hanya saling berbalas seadanya. Lalu, mengapa bersedih? Bukankah interaksi yang terbatas akan memudahkan hati agar tidak mudah terjun bebas? Sehebat dan sesempurna itulah Allah menjaga, sebab tak ingin ada air mata yang jatuh percuma.
Suatu hari, kita mungkin pernah mendapati diri merasa asing diantara perempuan-perempuan lain di sekitar kita karena tidak ada satu pun lelaki yang pernah menghabiskan perjalanan berdua dengan kita. Kita hanya mendengar atau melihat, tanpa bisa berempati sebab tak tahu bagaimana rasanya. Selama ini, perjalanan dihabiskan dengan teman-teman perempuan, orangtua, adik, kakak, atau saudara. Lalu, mengapa bersedih? Bukankah perjalanan-perjalanan yang dilakukan berdua sebelum waktunya lebih dekat pada bahaya? Sehebat dan sesempurna itulah Allah menjaga, sebab tak ingin ada mata yang terus beradu pandang dan raga yang terus beradu sentuh sebelum waktunya.
Jika pun suatu hari nanti akan ada seseorang yang dengan mudah kita sebut namanya, semoga itu adalah dia yang tersebab akadnya maka kita boleh menceritakan kebaikannya. Jika pun suatu hari nanti ada seseorang yang setiap hari berbalas pesan dengan kita, semoga itu adalah dia yang tersebab akadnya maka dengannya kita boleh membicarakan apa saja. Jika pun suatu hari nanti ada seseorang yang banyak menghabiskan perjalanan bersama kita, semoga itu adalah dia yang tersebab akadnya diperbolehkan mengajak kita bersafar kemana saja. Tapi sekarang, semoga kita senantiasa berbahagia dengan penjagaan-Nya yang sedemikian rupa.
Jangan lupa berdoa dan saling mendoakan perempuan-perempuan lainnya, sebab berat, susah, dan berlikunya menjaga diri tak akan pernah bisa kita terka hingga mungkin kita tak selamanya akan mudah menjalaninya.Bagaimana pun, semoga Allah senantiasa menjaga dan memudahkan. Selamat berbahagia diantara deras cinta-Nya. Baarakallahu fiik :”)
_____
Picture: Pinterest
Source: 

Rabu, 14 Maret 2018

Tentang Cinta

Cinta …
Entah mengapa di sore hari ini dengan ditemani suara rintikan hujan, saya ingin menuliskan sesuatu tentang cinta. Sebenarnya hal ini adalah hal yang tidak ingin saya membahasnya tapi entah mengapa dalam hati yang paling dalam ingin mencoretkan sesuatu tentang ini, tentang cinta.


Cinta, saya baru sadar cinta itu tidak memerlukan alasan. Selama ini, saya memikirkan kriteria apa saja untuk menjadi pemilik cintaku, ternyata itu salah karena cinta tidak memerlukan kriteria.


Cinta itu bukan karena kebaikan, kemampuan, kemarihan, kealiman ataupun sejenisnya yang dimiliki seseorang yang membuat kita kagum dan akhirnya memendam rasa kepadanya. Cinta itu murni karena kehendakNya, kita tidak tahu bagaimana, apa, dan dengan siapa kita akan jatuh cinta. Ketika cinta itu datang ketika itu pula kita bertanya-tanya apa alasan mengapa Allah menghendaki kita jatuh cinta kepadanya, dan alasannya hanya Allahlah yang tahu karena Allah telah menuliskan cerita cinta hambanya pada Lauhul Mahfudz.


Hanya saja sikap kita yang paling tepat untuk menyikapi datangnya cinta, menurut saya setelah membaca buku, mengikuti seminar, dan menimba ilmu tentang ini, sikap yang paling tepat adalah memperbaiki diri sebaik-baiknya mulai dari akhlak serta aqidah, berikhtiar kepada Allah, jika cinta datang belum waktunya(belum siap kita menerimanya) maka jauhi dia yang membuat kita merasakan itu, jika cinta datang tepat pada waktunya mantapkan hati untuk menjalin hubungan yang halal Allah akan menolong hambanya yang berniat untuk menyikapi cinta dengan cara yang halal itu Janji Allah , mintalah kepada Allah bagaimana petunjuk langkah yang paling tepat dan benar untuk menghadapi cinta.


Karena dengan cinta, 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam mengatakan,
“Ada tujuh golongan manusia yang mendapatkan naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali hanya naungan-Nya…diantara mereka adalah dua orang yang saling mencintai karena Allah.
Keduanya berjumpa karena Allah, berpisah juga karena Allah”.
“Ada tiga golongan yang wajib bagi Allah menolong mereka. Pertama, budak mukatab yang ingin melunasi dirinya agar bisa merdeka. Dua, orang yang menikah demi menjaga kesucian dirinya dari ma’shiat. Dan ketiga, para mujahid di jalan Allah.” (HR At Tirmidzi, An Nasa’i, dan Ibnu Majah)
Subhanallah, dengan kita menjadikan cinta itu halal dan mendapat ridhaNya kita bisa merasakan keridhaanNya masuk dalam SurgaNya, Insya'Allah.
Saat ini hal yang paling tepat adalah merenungkan apakah sikap kita tentang cinta benar atau salah, menyikapi cinta dengan Halal adalah yang Terbaik.
Perbaiki diri, berikhtiar, dan memohon kepada Allah agar jatuh cintakan kepada seorang yang baik untuk kita. Sudah jelas Allah akan menyandingkan hambanya yang baik dengan hambanya yang baik pula, dan sebaliknya (An-nur : 26).
Jadi, Perbaiki diri dan sambutlah Cinta dengan cara yang Halal, Demi memperoleh Keridhaan-Nya….


Annisa Putri Aryati
10 November 2014




  

POLIGAMI : Antara Keadilan dan Perasaan 2

sambungan dari part 1 (klik)
Asy Syifa masih riuh ketika Ustadz Deden hendak melanjutkan penjelasannya kembali.
“Mari kita lanjutkan. Setelah menyarankan untuk menikahi dua, tiga atau empat perempuan dengan tujuan memberikan keadilan (dan perlindungan), Allah kemudian memfirmankan ini ‘Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja…’.”

“Sejenak kita sampingkan kalimat ini dan kita fokus pada kosa kata adil dalam ayat ini yang Allah sebutkan dalam dua jenis kata yang berbeda:  تُقْسِطُوا  di awal dan  تَعْدِلُوا  di akhir. Artinya apa?  تُقْسِطُوا  biasa dipakai untuk menggambarkan keadilan yang besar. Memberi perlindungan kepada anak yatim, sesama muslim yang ditinggal mati ayahnya dalam perang, dan sebagainya adalah perkara yang besar. Menikahi mereka dengan niat memberi perlindungan adalah hal besar. Sesuatu yang besar. Maka  تُقْسِطُوا  dipakai untuk menggambarkan keadilan yang besar ini. Sedangkan  تَعْدِلُوا   biasa dipakai untuk menggambarkan keadilan dalam hal-hal kecil, seperti salah satunya adalah perasaan. Keadilan perasaan. Maka, jika kita takut tidak bisa adil (dalam hal kecil, sekalipun itu sekecil perasaan), maka lebih baik nikahilah seorang saja.”

Tak pelak kami, yang perempuan, tersenyum-senyum dan para laki-laki manggut-manggut memahami hal ini sebagai sesuatu yang besar sekali nampaknya. Ada rasa terharu yang entah darimana datangnya. Rasa-rasanya Allah sungguh mengasihi kami, hanya kami tak pernah sadar. Bahkan hal sekecil perasaan saja Ia pertimbangkan.

“Maka, sampai pada titik ini kita seharusnya menyadari sesuatu, bahwa: keadilan tidak selalu sama. Keadilan untuk laki-laki tidak selalu sama karena tidak semua bisa melakukan pernikahan dengan lebih dari satu wanita, ini ditimbang berdasarkan kemampuannya dalam agama dan dalam hal apapun ditambah dengan syarat-syarat yang kita telah bahas tadi bahwa perempuannya harus begini, bahwa cara yang lebih afdol adalah begini dan sebagainya. Ada kalanya adil bagimu adalah dengan menikahi satu saja. Kamu tetap berbuat adil kepada istrimu dan kepada saudaramu dengan menjaga keadilan perasaan tadi. Itu adil. Jangan dikira tidak. Itu adil, keadilan yang kecil namun menghindari suatu mudharat besar bernama aniaya.”

“Maka, pilih adil yang mana?”
Kami tertawa, kami malu, sebab keadilan yang kami pilih mungkin hanya keadilan kecil.
“Lantas, mari kita lihat lagi. Allah menyebutkan ‘seorang’ dengan kata ‘wahidah’. Wahid itu satu. Wahid itu sifat Allah. Mengapa penggunaan katanya wahid? Sebab yang satu itu adalah utama, terutama dan punya keutamaan. Maka, kalian perempuan yang Allah sebut sebagai wahidah, jika ingin menjadi perempuan yang utama, milikilah keutamaan. Seperti Khaadijah, seperti Fatimah.”
Dan mata kami berkaca-kaca. Kami, yang awalnya cemburu kini justru malu. Kecemburuan kami hadir karena kurangnya ilmu kami sendiri. Karenanya, kami tak memahami pemaknaan ayat yang seindah ini.

“Kemudian bagaimana jika ada seorang wanita yang justru mencarikan wanita lain untuk dinikahi suaminya? Ya tidak apa-apa. Berarti hatinya telah diberikan kepada Allah, tujuannya adalah untuk mencapai suatu keadilan yang besar. Syahwatnya telah luruh menjadi ibadah dan ibadah. Tidak apa-apa, bukan berarti dia tidak menjadi wanita yang utama. Ada keistimewaan lain yang ia punya.”

“Dalam perkara dicarikan istri lagi ini, laki-laki juga ada adabnya. Kita harus mengingat bagaimana santunnya Rasulullah menjawab pinangan seorang wanita yang disampaikan melalui bibinya waktu itu. Beliau, dengan kerendahan hatinya menjawab bahwa beliau sudah cukup dengan istrinya saat itu. Itu adabnya. Maka jika esok kalian menemui istri kalian mencarikan lagi istri untuk kalian karena satu hal tertentu, jawablah dengan penuh kerendahhatian dan kewibawaan ‘saya, cukup dengan kamu saja’ itu adabnya. Selanjutnya, monggo, bisa dibicarakan.”

Kemudian kami tersenyum-senyum lagi, perasaan berkecamuk tak karuan.
“Nah, selesai sudah penjelasannya. Tinggal kita hendak memilih keadilan yang bagaimana: yang pertama atau yang kedua. Kedua-duanya sama-sama baik. Kedua-duanya sama-sama menuju tempat yang sama jika niatnya benar: Surga.”
Saya diam. Maka benar bahwa “menikah itu tidak hanya dunia, tapi dunia-akhirat seisinya.” mengutip hal yang disampaikan  Dr. H. Akhmad Alim, Lc, MA. pada majelis empat minggu sebelumnya.

Kami, terlebih saya, pulang dengan membawa pemikiran yang terus berputar-putar. Saya bersemangat sekali untuk menceritakan ini hanya takut salah pemaparan (karena dalam pemaparan aslinya Ustadz Deden banyak menerangkan tentang ilmu nahwu, pemilihan kata, penerjemahan dalam bahasa arab dll yang kurang saya pahami). Tapi pada akhirnya, saya beranikan dengan niat baik ingin berbagi ilmu. Semoga kesalahan yang saya perbuat dalam pemaparannnya bisa dikoreksi oleh teman-teman yang lebih tahu.

Demikian kiranya. Semoga dapat menjadi pembelajaran.
Semangat.
Semoga kita dapat menjadi manusia yang adil dalam setiap urusan :)
*disarikan dari ceramah Ust. Deden Makhyaruddin dalam kajian Madrasah Peradaban,  280516, Masjid Asy Syifa, Jakarta Pusat.

**kekurangtepatan penjelasan karena terbatasnya ilmu penulis dalam membahasakannya kembali. Mohon dikoreksi jika berkenan.

- Repost from tumblr Khoiriyalatifah

POLIGAMI : Antara Keadilan dan Perasaan 1

Majelis hari itu (28/05/16) tidak seperti biasanya. Perbandingan laki-laki dan perempuan nampak sekali: 1 banding 5 padahal biasanya tidak terlalu jomplang begitu. Ditambah lagi, pembahasan di majelis kali ini topiknya ‘luar biasa’, An Nisa’ ayat 3. 
وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”

Belum-belum, kami (perempuan, red) sudah malas duluan membahasnya. Belum apa-apa, kami sudah cemburu. Iya, sudah cemburu. Padahal kalau dipikirkan, belum juga menikah, malah…belum juga ada calonnya. Tapi, kami sudah cemburu hanya dengan disinggung saja. Sekali lagi saya ulangi, kami sudah cemburu (di mana di sisi lain sana ada yang bersorak-sorai). Dan saya sadar, inilah bentuk asli perasaan seorang perempuan. Hadir direct dari kedalaman hatinya. Banyak ragam bentuk cemburu yang saya amati dari wajah kawan-kawan saya saat itu: ada yang sengaja tidak mau menatap layar materi, ada yang mementahkan tiap rincian materi pembuka, ada yang memasang muka masam, ada yang diam saja tapi diam-diam hatinya tergerus (saya misalnya). Hahaha.

Tapi, kami mendengarkan dan merekam setiap perkataan Ustadz Deden Makhyaruddin, waktu itu. Secemburu-cemburunya, kami tetap lebih ingin memenuhi keingintahuan tentang ilmunya, tentang bagaimana hukumnya, sebab hal ini tidak terlepas dari kehidupan kami nantinya mau suka maupun tidak suka.
Dan, tak disangka, Ustadz Deden menerangkan hal ini dengan indah sekali. Persis seperti Allah menuliskannya dalam An Nisa ayat 3.
“Ini ayat tentang apa?” tanya Ustadz Deden mengawali penjelasannya
Maka, dengan malas-malas sebal (kami, perempuan) dan dengan takut-takut bingung campur senyum-senyum yang entah apa artinya (para laki-laki) menjawab “Tentang poligami dalam islam.”
“Salah.” dan kami pun diam, bingung.
“Pemahaman awalnya saja sudah salah, maka jangan tanya pengamalannya. Siapa bilang ini ayat tentang poligami?”
Kami diam

“Jelas-jelas Allah mengawalinya dengan  ‘Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil’. Sudah jelas ini ayat tentang keadilan.”
Kami masih terus diam, namun hati kami penasaran. Pembahasan ini mulai menarik.
Ustadz Deden tersenyum puas melihat kami kebingungan sekaligus penasaran.
“Mengapa sih Allah menempatkan perempuan sebagai objek di ayat ini?”

Kami masih diam sebab kami memang tak punya ide sama sekali tentang apa jawabannya.
“Sebab dahulu, jaman Rasulullah hidup, perempuan adalah objek ketidakadilan dan mungkin saat ini pun masih. Dan dengan ayat ini, Allah hendak mengangkat keadilan untuk para perempuan.”
“Coba dicermati, mengapa di sana disebutkan tentang anak yatim terlebih dahulu? Karena anak yatim, dan perempuan, adalah objek ketidakadilan yang paling besar, dahulu. Ketika ayahnya meninggal, iya tidak mempunyai tempat perlindungan. Salah satu tempat perlindungan yang paling baik adalah mencarikannya laki-laki yang mau menikahinya (sekaligus memberikan keadilan kepadanya). Dan, jumlah anak yatim perempuan itu tak terbanyang banyaknya waktu itu, sebab perang merenggut ayah-ayah mereka sehingga mereka terlunta-lunta bersama harta ayah mereka yang banyak, yang telah ditinggalkan. Maka, tempat perlindungan yang baik adalah suami. Maka, bagi siapapun yang hendak berbuat adil kepada saudaranya, menikahi anak yatim adalah lebih utama untuk menjaga hak-haknya, memberikan perlindungan dan memberikan keadilan.”
Kami diam, masih diam.

“Coba, cermati lagi, adakah unsur perasaan di sini? Tidak ada sama sekali.”
Kami saling berpandangan.
“Mari kita coba bahas kalimat selanjutnya. Di sana disebutkan jika takut tidak bisa berbuat adil kepada anak-anak yatim itu, maka menikahlah dengan wanita-wanita lain (yang kamu senangi). Kita ralat di sini, sebab terjemahan di sini agak rancu. Dilihat dari struktur bahasa arabnya, harusnya terjemahannya adalah: yang menyenangimu. Saya sudah usulkan perbaikannya kepada kementrian agama, namun sepertinya belum difollow up saja. Jadi, sekali lagi, tidak ada dorongan perasaan di sini, ketika seorang laki-laki harus memutuskan untuk menikahi lebih dari 1 perempuan.”
“Maka, itulah kenapa Rasulullah tidak pernah menikah dengan wanita lain selama Khadijah masih hidup. Sebab Rasulullah menikahi Khadijah dengan perasaannya, dengan rasa cinta, bukan atas dorongan membagi keadilan.”

Maka mahfumlah kami, mengapa Khadijah dan putrinya, Fatimah adalah dua perempuan utama yang tidak pernah dimadu suaminya: Rasulullah dan Ali bin Abi Thalib. Dalamnya perasaan Rasulullah kepada Khadijah dapat terlihat dari cemburunya Aisyah kepada sosok ini sekalipun Khadijah telah meninggal. Kita juga tentu sudah sering mendengar bagaimana kisah Fatimah dan Ali. Keduanya adalah dua orang yang pandai menyembunyikan perasaan, bahkan syaitan pun tak mengetahuinya. Keduanya sudah jatuh cinta jauh-jauh hari, sejak lama sekali dan menikahlah mereka karena rasa cinta itu.

Kembali kepada penjelasan Ustadz Deden
“Kita lihat selanjutnya, disebutkan ‘menikahlah dengan dua, tiga atau empat’. Artinya, menikahlah dengan langsung dua orang, tiga orang, atau empat sekaligus. Tidak satu-satu. Itu tata cara sunnahnya. Lebih baik seperti itu. Sebab jika menikah satu, kemudian nambah satu, nambah lagi, ada perasaan yang akan ikut serta di situ. Ada perasaan yang dulunya utuh, kemudian terbagi. Berbeda jika langsung dua, tiga atau empat, memang sudah sejak awal dibagi, sudah sejak awal adil sehingga diharapkan kedepannya lebih dekat dengan keadilan.”

Kami riuh rendah, semuanya. Sebab ini adalah ilmu yang baru sekali kami dapat. Banyak bisik-bisik heboh di sana-sini, perempuan maupun laki-laki. Pembahasan ini kian menarik lagi. Kami tak lagi cemburu, iya, tak lagi cemburu. Bagi kami perempuan, hal ini masuk akal, sebab jika sejak awal kami sudah diberikan jatah setengah, atau sepertiga, atau seperempat, maka tentu kami akan paham kedepannya bahwa hak kami memang hanya sebagian itu, tidak seluruhnya. Berbeda jika awalnya kami mendapat utuh, kemudian harus membaginya di pertengahan perjalanan. Ada retak yang entah bagaimana rasanya jika membagi hal yang sangat dicintai, dan hal ini berhubungan dengan pembahasan selanjutnya: keadilan perasaan.

“Kemudian, siapa sih wanita yang pantas untuk dinikahi ini? Mari kita lihat penggalan ini  مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ . Di situ, dituliskan  مَا . Berdasarkan ilmu nahwu,  مَا  itu dipakai untuk benda mati, untuk yang tidak mempunyai hati.  مِنَ النِّسَاءِ artinya wanita. Berdasarkan strukturnya, dapat ditarik arti bahwa wanita yang dimaksud adalah wanita yang ‘hatinya telah mati’ artinya, ia tidak lagi menempatkan perasaan untuk sebuah pernikahan. Ia menempatkan keinginan akhirat di atas segalanya: demi keadilan, demi perlindungan, demi terjaga kesuciannya, demi menghindari fitnah dan lain-lain. Sekali lagi, tidak ada dorongan perasaan di sini. Terlebih, tidak ada dorongan syahwat di sini.”

Kami diam senyum-senyum.
“Lalu, ada tidak wanita itu jaman sekarang?” tanya Ustadz Deden senyum-senyum juga.
“Sulit, Ustadz.” para laki-laki menjawab lirih-lirih.
“Makanya, bisa nggak nikah lebih dari satu?”
Kami tertawa dan menjawab serentak “Sulit, Ustadz.” dan keadaan riuh rendah beberapa lama.
“Nah makanya….”
Kami senyum-senyum sendiri. Asy Syifa riuh rendah di sana-sini.
bersambung part 2 (klik)
*disarikan dari ceramah Ust. Deden Makhyaruddin dalam kajian Madrasah Peradaban,  280516, Masjid Asy Syifa, Jakarta Pusat. 

**kekurangtepatan penjelasan karena terbatasnya ilmu penulis dalam membahasakannya kembali. Mohon dikoreksi jika berkenan.

- Repost from tumblr Khoiriyalatifah

Lelaki yang Kamu Cari


Kalau di tengah perjalanan, kamu bertemu dengan lelaki yang kerjanya malas-malasan, banyak mengeluh dan alasan, juga banyak berbicara tentang “akan dan nanti”, lupakan saja. Ditengah sifatnya yang merasa superior, laki-laki adalah jenis manusia yang mudah dipatahkan harga dirinya. Dipatahkan oleh kemalasannya sendiri.

Pernah satu hari, teman saya mengatakan kalau perempuan itu matre. Bagi saya, perempuan “harus” matre biar laki-laki pemalas seperti dia ini mau bekerja keras. Tidak hanya mencari yang mau hidup susah. Padahal sejatinya, laki-laki yang bertanggungjawab tidak akan pernah membiarkan perempuan yang dicintainya hidup susah!

Kalau kamu lihat laki-laki lebih banyak nongkrongnya daripada aksi nyatanya, lupakan. Sebab kamu tidak sedang mencari teman yang sekedar teman, kamu sedang mencari ayah yang baik untuk anak-anak yang akan lahir dari rahim sucimu. Dan itu bukanlah sesuatu yang sederhana dan hanya sekedar cinta, butuh lebih dari itu, yaitu pengorbanan.

Coba dengarkan kata-kata yang lahir dari bicaranya, dengarkan baik-baik. Maka itulah isi kepalanya. Tempat dimana nantinya kamu tinggal, cari tempat tinggal yang baik. Sebuah pikiran yang jernih, penuh ilmu pengetahuan, penuh kosakata yang baik, dan lurus.

Coba lihat bagaimana dia membelanjakan uangnya. Laki-laki yang bertanggungjawab benar tahu siapa saja yang berhak atas harta yang dia dapatkan. Habiskah hanya untuk kesenangan atau sesuatu yang lebih bermakna dari itu. Karena nantinya, harta itu akan berada dalam kendalimu. Sesuatu yang banyak melenakan keluarga adalah harta.

Coba lihat baik-baik, di antara begitu banyak laki-laki yang kamu kenal. Mungkin hanya sedikit yang layak menjadi ayah suatu hari nanti. Dari yang sedikit itu, coba cari tahu bagaimana perjalanan hidupnya. Karena belajar tentang proses hidup seseorang akan mengantarkan kita pada sebuah pemahaman bahwa laki-laki yang bertanggungjawab tidak serta merta demikian. Karena pada dasarnya laki-laki itu liar. Sebab itu, yang terbaik dari mereka adalah yang memiliki kemampuan mengendalikan dirinya sendiri.
Selamat mencari tahu.

©kurniawangunadi

Ku Serahkan Putriku Padamu

Saat pertama kali putri kecil kami terlahir di dunia, dia menjadi simbol kebahagiaan bagi kami, orang tuanya. Bahagia yang tiada tara kami rasakan karenanya. Kami menjaganya siang dan malam, sampai kami melupakan keadaan diri sendiri. Kami sadar, memang seharusnyalah seperti itu kewajiban orang tua.


Kami besarkan dia dengan segenap jiwa dan raga. Kami didik dengan semaksimal ilmu yang kami punya. Dan kami jaga dia dengan penuh kehati-hatian.
Dan waktupun berlalu…
Dia kini telah menjadi sesosok gadis yang cantik. Betapa bangga kami memilikinya. Kami berpikir, betapa cepat waktu berlalu, dan terbersit dalam hati kami untuk tetap menahannnya disini. Bukan bermaksud meletakkan ego kami atas hidupnya, Namun sebagai orang tua, siapa yang dapat berpisah dari anaknya. Putri kesayangannnya.


Tapi,…
Hari ini, akhirnya datang juga. Saat dimana kami harus melihatnya terbalut dalam pakaian cantik, yaitu gaun pengantinnya. Gadis kecil kami telah tumbuh dewasa. Dan sesudah ijab kabul ini, kau-lah kini yang menjadi penjaganya. Menggantikan kami. Mari ikatkan tanganmu kepadanya.
Waktu akhirnya memaksa kami berpisah dengannya. Walaupun kau adalah orang yang asing dan baru sebentar dikenalnya, sedangkan kami adalah orang tuanya yang telah mengorbankan semua yang kami punya untuknya. Namun, tak ada sama sekali kemarahan kami atas dirimu, menantuku. Namun ijinkan kami sedikit meluapkan kesedihan atas seorang putri kami yang harus jauh meninggalkan kami, karena harus mengikutimu. Kamipun tak akan protes kepadamu, karena mulai hari ini, dia harus mengutamakan kau diatas kami.


Tolong, jangan beratkan hatinya, karena sebenarnya pun hatinya telah berat untuk meninggalkan kami dan hanya mengabdi kepadamu. Seperti hal nya anak yang ingin berbakti kepada orang tua, pun demikian dengannya. Kami tidak keberatan apabila harus sendiri, tanpa ada gadis kecil kami dulu yang selalu menemani dan menolong kami dimasa tua.


Kami menikahkanmu dengan anak gadis kami dan memberikan kepadamu dengan cuma-cuma, kami hanya memohon untuk dia selalu kau jaga dan kau bahagiakan.
Jangan sakiti hatinya, karena hal itu berarti pula akan menyakiti kami. Dia kami besarkan dengan segenap jiwa raga, untuk menjadi penopang harapan kami dimasa depan, untuk mengangkat kehormatan dan derajat kami. Pengabdiannya pada suami akan menjadi pahala bagi kami. Namun kini kami harus menitipkannya kepadamu. Kami tidaklah keberatan, karena berarti terjagalah kehormatan putri kami.


Jika kau tak berkenan atas kekurangannya, ingatkanlah dia dengan cara yang baik, mohon jangan sakiti dia, sekali lagi, jangan sakiti dia.
Suatu saat dia menangis karena merasa kasihan dengan kami yang mulai menua, namun harus sendiri berdua disini, tanpa ada kehadirannya lagi. Tahukah engkau wahai menantuku, bahwa kau pun memiliki orang tua, pun dengan istrimu ini. Disaat kau perintahkan dia untuk menemani orang tuamu disana, pernahkah kau berpikir betapa luasnya hati istrimu? Dia mengorbankan egonya sendiri untuk tetap berada disamping orang tuamu, menjaga dan merawat mereka, sedang kami tahu betapa sedih dia karena dengan itu berarti orang tuanya sendiri, harus sendiri. Sama sekali tiada keluh kesah darinya tentang semua itu, karena semua adalah untuk menepati kewajibannya kepada Allah.
Dia mementingkan dirimu dan hanya bisa mengirim doa kepada kami dari jauh. Jujur, sedih hati kami saat jauh darinya. Namun apalah daya kami, memang sudah masa seharusnya seperti itu, kau lebih berhak atasnya dari pada kami, orang tuanya sendiri.


Maka hargailah dia yang telah dengan rela mengabdi kepadamu. Maka hiburlah dia yang telah membuat keputusan yang sedemikian sulit. Maka sayangilah dia atas semua pengorbanannya yang hanya demi dirimu. Begitulah cantiknya putri kami, Semoga kau mengetahui betapa berharganya istrimu itu, jika kau menyadari.

- Repost from tumblr Dokter Fina

Bunsay 6 : Pantulan Warna Zona 6-7-8