Rabu, 14 Maret 2018

Tulisan yang menguatkan dalam Masa Penantian

Assalamu’alaikum …
Entah angin apa yang membuai hari ini, membuatku begitu berani mencoretkan sesuatu untuk dirimu yang tidak pernah aku kenali. Aku sebenarnya tidak pernah berniat untuk memperkenalkan diriku kepada siapapun. Apalagi mencurahkan sesuatu yang hanya aku khususkan buatmu sebelum tiba masanya. Kehadiran seorang lelaki yang menuntut sesuatu yang kujaga rapi selama ini semata-mata buatmu, itulah hati dan cintaku, membuatku tersadar dari lenaku yang panjang. Ibu telah mendidikku semenjak kecil agar menjaga maruah dan mahkota diriku karena Allah telah menetapkannya untukmu suatu hari nanti. Kata ibu, tanggungjawab ibu bapak terhadap anak perempuan ialah menjaga dan mendidiknya sehingga seorang lelaki mengambil-alih tanggungjawab itu dari mereka.


Jadi, kau telah wujud dalam diriku sejak dulu. Sepanjang umurku ini, aku menutup pintu hatiku dari lelaki manapun karena aku tidak mau membelakangimu. Aku menghalang diriku dari mengenali lelaki manapun karena aku tidak mau mengenal lelaki lain selainmu, apa lagi memahami mereka. Karena itulah aku sekuat ‘kodrat yang lemah ini’ membatasi pergaulanku dengan bukan mahramku. Aku lebih suka berada di rumah karena rumah itu tempat yang terbaik buat sorang perempuan. Aku sering merasa tidak selamat dari diperhatikan lelaki. Bukanlah aku bersangka buruk terhadap kaummu, tetapi lebih baik aku berwaspada karena contoh banyak di depan mata.

Aku palingkan wajahku dari lelaki yang asyik memperhatikan diriku atau coba merayuku. Aku sedaya mungkin melarikan pandanganku dari lelaki ajnabi (asing) karena Sayyidah Aisyah r.a pernah berpesan, “Sebaik-baik wanita ialah yang tidak memandang dan tidak dipandang oleh lelaki.” Aku tidak ingin dipandang cantik oleh lelaki. Biarlah aku hanya cantik di matamu. Apalah gunanya aku menjadi idaman banyak lelaki sedangkan aku hanya bisa menjadi milikmu seorang. Aku tidak merasa bangga menjadi rebutan lelaki bahkan aku merasa terhina diperlakukan sebegitu seolah-olah aku ini barang yang bisa dimiliki sesuka hati.

Aku juga tidak mau menjadi penyebab kejatuhan seorang lelaki yang dikecewakan lantaran terlalu mengharapkan sesuatu yang tidak dapat aku berikan. Bagaimana akan kujawab di hadapan ALLAH kelak andai ditanya? Adakah itu sumbanganku kepada manusia selama hidup di muka bumi? Kalau aku tidak ingin kau memandang perempuan lain, aku dululah yang perlu menundukkan pandanganku. Aku harus memperbaiki dan menghias pribadiku karena itulah yang dituntut oleh Allah. Kalau aku ingin lelaki yang baik menjadi suamiku, aku juga perlu menjadi perempuan yang baik. Bukankah Allah telah menjanjikan perempuan yang baik itu untuk lelaki yang baik?

Tidak kunafikan sebagai remaja, aku memiliki perasaan untuk menyayangi dan disayangi. Namun setiap kali perasaan itu datang, setiap kali itulah aku mengingatkan diriku bahwa aku perlu menjaga perasaan itu karena ia semata-mata untukmu. Allah telah memuliakan seorang lelaki yang bakal menjadi suamiku untuk menerima hati dan perasaanku yang suci. Bukan hati yang menjadi labuhan lelaki lain. Engkau berhak mendapat kasih yang tulen.

Diriku yang memang lemah ini telah diuji oleh Allah saat seorang lelaki ingin berkenalan denganku. Aku dengan tegas menolak, berbagai macam dalil aku kemukakan, tetapi dia tetap tidak berputus asa. Aku merasa seolah-olah kehidupanku yang tenang ini telah dirampas dariku. Aku bertanya-tanya adakah aku berada di tebing kebinasaan ? Aku beristigfar memohon ampunan-Nya. Aku juga berdoa agar Pemilik Segala Rasa Cinta melindungi diriku dari kejahatan.
Kehadirannya membuatku banyak memikirkan tentang dirimu. Kau kurasakan seolah-olah wujud bersamaku. Di mana saja aku berada, akal sadarku membuat perhitungan denganmu. Aku tahu lelaki yang menggodaku itu bukan dirimu. Malah aku yakin pada gerak hatiku yang mengatakan lelaki itu bukan teman hidupku kelak.

Aku bukanlah seorang gadis yang cerewet dalam memilih pasangan hidup. Siapalah diriku untuk memilih permata sedangkan aku hanyalah sebutir pasir yang wujud di mana-mana.
Tetapi aku juga punya keinginan seperti wanita solehah yang lain, dilamar lelaki yang bakal dinobatkan sebagai ahli surga, memimpinku ke arah tujuan yang satu.
Tidak perlu kau memiliki wajah setampan Nabi Yusuf Alaihisalam, juga harta seluas perbendaharaan Nabi Sulaiman Alaihisalam, atau kekuasaan seluas kerajaan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, yang mampu mendebarkan hati juataan gadis untuk membuat aku terpikat.

Andainya kaulah jodohku yang tertulis di Lauh Mahfuz, Allah pasti akan menanamkan rasa kasih dalam hatiku juga hatimu. Itu janji Allah. Akan tetapi, selagi kita tidak diikat dengan ikatan yang sah, selagi itu jangan dimubazirkan perasaan itu karena kita masih tidak mempunyai hak untuk begitu. Juga jangan melampaui batas yang telah Allah tetapkan. Aku takut perbuatan-perbuatan seperti itu akan memberi kesan yang tidak baik dalam kehidupan kita kelak.

Permintaanku tidak banyak. Cukuplah engkau menyerahkan seluruh dirimu dalam mencari ridha Illahi. Aku akan merasa amat bernilai andai dapat menjadi tiang penyangga ataupun sandaran perjuanganmu. Bahkan aku amat bersyukur pada Illahi kiranya akulah yang ditakdirkan meniup semangat juangmu, mengulurkan tanganku untukmu berpaut sewaktu rebah atau tersungkur di medan yang dijanjikan Allah dengan kemenangan atau syahid itu. Akan kukeringkan darah dari lukamu dengan tanganku sendiri. Itu impianku.
Aku pasti berendam airmata darah, andainya engkau menyerahkan seluruh cintamu kepadaku. Cukuplah kau mencintai Allah dengan sepenuh hatimu karena dengan mencintai Allah, kau akan mencintaiku karena-Nya. Cinta itu lebih abadi daripada cinta biasa. Semoga cinta itu juga yang akan mempertemukan kita kembali di surga.


- AAB

Ayah Cinta yang Diam

“More than 20 million children live in a home without the physical presence of a father.  Millions more have dads who are physically present, but emotionally absent.  If it were classified as a disease, fatherlessness would be an epidemic worthy of attention as a national emergency.”
Kutipan di atas berasal dari www.fathers.com, sebuah situs milik National Center for Fathering (NCF) yang berdiri pada tahun 1990 di  Amerika Serikat. NCF adalah organisasi yang concern pada fathering, khususnya pada fenomena fatherless. Mungkin beberapa orang masih awam dengan kata ‘fathering’ dan  ‘fatherless’. Tidak heran, sebab topik ini memang jarang diangkat dalam pembahasan parenting sekalipun. Atau, kalaupun dibahas, tidak terlalu mendalam. Fathering dalam Bahasa Indonesia seringkali dibahasakan sebagai ‘ke-ayah-an’ atau ilmu tentang menjadi ayah. Fatherlessadalah fenomena di mana sosok ayah absen secara fisik maupun emosional dalam pengasuhan anak.
Nah, sudah terbayang belum maksud fathering dan fatherless itu apa? Apa sih sebenarnya maksud ‘menjadi ayah’ di sini? Mari coba kita jabarkan bersama.
Mari kita lihat lagi apa definisi Ayah dan keayahan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
ayah1 n 1 orang tua kandung laki-laki; bapak; 2 panggilan kepada orang tua kandung laki-laki;
keayahan/ke·a·yah·an/ n 1 hal-hal yang berhubungan dengan tugas dan kewajiban ayah; 2 sifat-sifat yang dimiliki seorang ayah
Mari kita ambil satu pemisalan. Seseorang yang mempunyai bola, apakah sudah bisa disebut pemain bola? Lantas apakah jika seorang laki-laki telah mempunyai anak lantas sudah bisa disebut ayah? Bisa memang, tapi cukup sebagai ‘panggilan’ saja. Padahal, ayah adalah posisi yang lebih dari sekedar ‘mempunyai’. Menjadi ayah adalah tentang berbuat sesuatu sebagai andilnya dalam pengasuhan anak. Selama ini, awam kita pahami bahwa pengasuhan anak adalah tugas ibu sebagai Madrasatul Uula, madrasah pertama bagi anaknya, sehingga sejak akhil baligh para gadis sudah dituntun (dan dituntut) untuk belajar menjadi Ibu (dan istri) yang baik (yang dalam masyarakat awam kita sekarang lebih sering diartikan dengan pandai memasak, pandai bersih-bersih, sopan dan berlaku lemah lembut). Jarang kita temui di masyarakat para anak laki-laki itu dididik menjadi ayah (dan suami) yang baik. Paling maksimal, para anak laki-laki yang sudah memasuki fase remaja-dewasa ini dididik untuk bisa melakukan perkerjaan-pekerjaan kasar seperti mengganti bohlam lampu, membereskan genting rumah, memperbaiki pompa air dan berbagai pekerjaan lainnya yang (dianggap) tidak bisa dikerjakan perempuan. Tidak salah memang, hanya saja tujuan Allah mengirimkan sosok ayah kepada seorang anak tidak akan tercapai dengan ‘hanya’ menguasai kemampuan-kemampuan itu.
Diam-Diam Sayang
Tapi kalau diam aja mana tahu kalau sayang?
Sebelumnya, kita semua harus sepakat bahwa tidak ada Ayah yang tidak menyayangi anaknya. Seperti halnya seorang ibu yang pasti mencintai anaknya, seperti itu pulalah seorang Ayah. Perbedaannya adalah, ibu (biasanya) dibekali dengan kemampuan menunjukkannya secara verbal dan visual sedangkan para Ayah cenderung gengsi dan jaim untuk menunjukkan perasaan sayangnya kepada anak. Inilah yang dalam www.fathers.com disebut sebagai “dads who are physically present, but emotionally absent”.Yang terjadi di masyarakat saat ini adalah sepulang  bekerja percakapan Ayah dan anak maksimal hanya berhenti pada pertanyaan “Bagaimana sekolahnya tadi?” atau “Ngapain aja adek hari ini?” atau “Tadi nggak nakal kan di sekolah?” atau “ PRnya udah dikerjain belum?” atau yang lebih parah justru langsung masuk kamar dan istirahat. Jarang sekali terjadi pecakapan Ayah dan anak yang merambah pada pembentukan sikap dan penyampaian perasaan. Percakapan semacam “Adek tadi sedih ya karena digangguin temennya?” atau “Terus gimana tadi minta maafnya?” atau ungkapan “Bagus sekali anak Ibu, sudah bisa memaafkan temennya. Jadi anak pemaaf itu baik. Terimakasih, ya.” seringnya diucapkan oleh para ibu. Kegiatan mendongeng pun seringnya dilakukan oleh para ibu sehingga siapapun tokohnya (laki-laki maupun perempuan) selalu diperankan oleh ibu.
Pak Guru di mana?
Contoh konkrit lain dari fenomena fatherless dapat kita lihat pula di taman kanak-kanak (TK) atau playgroup saat ini. Pada umumnya, sekitar 98% atau bahkan 100% guru di sekolah tersebut adalah perempuan. Hal ini menjadi salah satu bukti konkrit dari pemahaman masyarakat bahwa pendidikan anak itu diserahkan kepada ibu. Padahal, yang masuk sekolah tersebut tidak hanya anak perempuan, namun juga anak laki-laki. Daripada anak perempuan, anak laki-laki dinilai lebih urgent membutuhkan sosok ayah sebagai bentuk nyata dan contoh yang bisa dilihat sebagai seorang ‘lelaki’. Pada usia 7 hingga 14 tahun misalnya, seorang anak laki-laki membutuhkan sosok ayah sebagai seseorang yang mampu mengajarkannya (1) keberanian yang harus dimiliki seorang laki-laki, (2) bagaimana seorang laki-laki menghadapi ketakutan, (3) kapan dan bagaimana laki-laki harus menunjukkan kesedihannya, (4) bagaimana seorang laki-laki saat bahagia. Misalnya lagi, dalam kegiatan mendongeng, anak-anak membutuhkan contoh visual sosok Umar bin Khatab yang tegas dan gagah berani yang tidak akan mungkin bisa diperankan secara maksimal oleh seorang guru TK perempuan. See? Betapa pentingnya peran guru laki-laki di sini, Guys (widih ‘guys’ wkwk). Sampai di sini, tidak salah rasanya jika Lamb (1999) mengatakan bahwa ayah adalah “the forgotten contributor” dalam pengasuhan anak.
Percakapan Ayah dan Anak dalam Al-Qur’an
Berikut saya ambil dari tulisan Cahyadi Takariawan:
“Sarah binti Halil bin Dakhilallah Al-Muthiri menulis terkait hal ini. Tesisnya berjudul “Hiwar Al- Aba’ Ma'a Al-Abna Fil Qur'anil Karim wa Tathbiqatuhu At-Tarbawiyah”, atau Dialog Orang Tua dengan Anak dalam Al-Quran Karim dan Aplikasinya dalam Pendidikan. Sarah mencatat, Al-Qur'an memuat dialog orang tua dengan anak dalam 17 tempat yang tersebar di 9 surat. Perinciannya, dialog ayah dengan anak sebanyak 14 tempat; dialog ibu dengan anak sebanyak 2 tempat, dialog kedua orang tua dengan anak (tanpa nama) sebanyak 1 tempat.”
Dalam tesis yang disebutkan Cahyadi Takariawan tersebut, percakapan ayah dan anak berjumlah >5 kali lipat lebih banyak percakapan ibu dan anak. Melihat fakta ini, kita sadar betapa pentingnya peran ayah dalam pengasuhan anak.
Ayah Irwan Rinaldi, mantan dosen Universitas Indonesia yang kemudian mengabdikan dirinya sebagai guru TK pernah menyampaikan bahwa percakapan ayah dan anak sebetulnya tidak memerlukan kuantitas yang banyak, namun lebih membutuhkan kualitas yang baik. Jadi, menurut beliau, tidak ada alasan bagi ayah yang sibuk bekerja untuk tidak berbincang dengan anak meskipun sebentar. Seorang ayah (hanya) perlu belajar bagaimana seni berbincang dengan anak ini sehingga mampu menjadi sarana mencapai tujuan fathering tersebut.
Bagaimana menjadi ‘ayah’?
Sampai pada paragraf ini, semoga kita sudah satu frame ya dalam menganggap bahwa fathering itu penting. Semoga kita berada pada satu keresahan yang sama (cieehehe) tentang fatherless. Dan, semoga kita berada pada harapan yang sama untuk segera bertemu dan/atau menjadi sosok laki-laki yang bisa menjadi Ayah dan ‘ayah’ (eh hehehe). Lalu bagaimana menjadi ‘ayah’? Berikut adalah beberapa hal yang harus menjadi perhatian. Point-pointini disampaikan oleh Ayah Irwan  Rinaldi dalam Forum Ushroh, Minggu, 9 April 2017 di Masjid Agung Al Azhar, Jakarta Selatan.
1. Memperhatikan Hubungan dengan Allah, Menjadi Hamba yang Baik
Menjadi hamba yang baik adalah kunci awal menjadi ayah yang baik. Untuk memahami fungsi ayah dalam pengasuhan anak, sebelumnya tentu harus mengetahui kewajiban dan hak seorang manusia kepada Tuhannya. Ilmu-ilmu pengasuhan anak baik teori maupun prakteknya seringkali dekat dengan ilmu-ilmu agama. Bahkan, kadang ilmu agama itulah yang juga merupakan ilmu parenting. Parenting Nabawi bahasa kerennya, parenting ala nabi. Maka, sebelum menjadi ayah yang baik, haruslah menjadi hamba yang baik terlebih dahulu.
2. Memperhatikan Hubungan dengan Istri, Menjadi Suami yang Baik
Seorang ayah (biasanya) bisa dipastikan juga adalah seorang suami. Dalam salah satu tulisan Ust. Bendri Jaisyurrahman, beliau pernah menyampaikan bahwa jika ada ungkapan “al ummu madrasatul uula” maka “wal abu mudiruha”: Ibu adalah Madrasah Pertama dan Ayah adalah Kepala Sekolahnya. Seorang kepala sekolah yang baik tentu akan memperhatikan keberlangsungan hidup gurunya dengan baik agar dapat menyampaikan materi pengajaran kepada anak didiknya. Seorang kepala sekolah juga adalah teladan setiap guru dalam pengajaran, sehingga seorang kepala sekolah pun seharusnya tidak hanya mengerti tentang ilmu memenuhi sarana dan prasarana mengajar (dalam hal ini disebut nafkah) tapi juga mahir dalam menyusun kurikulum.
3. Bekali Diri dengan Ilmu, Belajar Tumbuh Bersama Anak
Berkembangnya zaman membuat teknik mendidik anak pun berkembang. Mungkin kita sering mendengar ayah dan ibu kita berkata “dulu ibu nggak gitu lho, kamu ini kenapa tingkahnya aneh-aneh.” atau “jaman ayah dulu kuliah, nggak seperti ini.”. Ungkapan-ungkapan itu adalah tanda bahwa zaman berubah, berkembang dan berbeda tantangan. Maka, zaman di mana anak kita (cie, ‘kita’ banget nih?) dilahirkan dan dididik akan sangat berbeda dengan saat ini. Akan banyak tantangan baru sehingga membutuhkan ilmu baru yang harus terus dicari dan digali. Uwuwuwuw, semangat yha! #apalho
Pada akhirnya, kita harus kembali menyepakati satu hal bahwa setiap Ayah itu menyayangi anaknya. Ayah adalah sosok yang diam-diam mencintai. Ayah adalah ia yang diam-diam memperhatikan. Ayah sejatinya diam-diam mendoakan. Sampai ketika saatnya tiba: anaknya menikah, Ayah juga yang diam-diam kehilangan. Setiap Ayah itu hebat dan akan menjadi semakin hebat jika mau terus belajar mengungkapkan Cinta yang Diam itu.
Semangat, ya, Ayah.
Terimakasih atas kerja keras dan cintamu.
Allah menjagamu :)
*Tulisan ini merupakan intisari dari Kajian Forum Ushroh dengan tema “Ayah Ada, Ayah Tiada” Minggu, 9 April 2017 di Masjid Agung Al Azhar, Jakarta Selatan dan juga beberapa pandangan pribadi dari penulis.


Berikut ini beberapa link bacaan terkait fathering yang mungkin bisa menjadi asupan ilmu:
1. www.fathers.com
2. https://ayahuntuksemua.wordpress.com/
3. Ayah Harus Banyak Dialog dengan Anak (Oleh: Cahyadi Takariawan)
4. Sosok Ayah Penentu Arah (Oleh: Bendri Jaisyurrahman)
5. Tokoh Ayah dalam Al-Quran dan Keterlibatannya dalam Pembinaan Anak (Oleh: Rahmi)


- Repost from tumblr Khoiriyalatifah

Kenapa Masuk Gizi?

Hmm… Pertanyaan Bagus.
Ceritanya gini, sejak SD sampai SMA aku sukaaa banget sama yang namanya pelajaran IPA/BIOLOGI, nah… sejak SMP  sampai SMA kelas 2 aku punya cita-cita jadi dokter. Well… aku ceritain ke bapak dan bapak memberi dukungan, sayangnya pas aku cerita ke ibu, ibu bilang kalau nanti pas sekolah dokter ditengah perkuliahan tiba" nggk bisa membayar uang kuliah gimana, kedokteran itu membutuhkan banyak uang (dalam hati sebenarnya bisa kalau aktif cari beasiswa) tapi dari hal itu banyak pertimbangan yang aku pikirkan apalagi saat SMA kelas dua harus uda punya planning mau masuk PTN apa dan jurusan apa, buat daftar jalur undangan atau SNMPTN.
And then… aku search jurusan yang ada hubungannya dengan biologi akhirnya pilihanku ganti dari dokter jadi bioengineer dan satu-satunya PTN yang mendalami tentang itu ya ITB SITH. Dan seperti sebelumnya aku cerita ke bapak dan ibu… lalu…
Jengjengjeng… bapak dan ibu tidak setuju karena Surabaya-Bandung jauh dan biaya hidupnya mahal dll…
Sempat aku ngambek (maklum masih SMA, masa remaja)… selanjutnya aku search lagi jurusan yang sekiranya masih berbau biologi… dan… pas aku baca silabus perkuliahan jurusan gizi UB aku tertarik apalagi juga berhubungan dengan masak memasak makanan yang bergizi, ditambah lagi ada pemikiran
 "Jika nanti kalau sudah menikah suami tidak membolehkan bekerja, ilmuku masih bisa aku amalkan di keluarga. Setidaknya tidak mubadzir kan…“
Meskipun ada impian buat jadi dosen sih..
Tak lupa aku juga sholat Istikharah untuk memantapkan pilihan (nggak hanya masalah jodoh yang perlu Istikharah loo….). Singkat cerita, saat SMA kelas 3 tepatnya saat memilih jalur undangan, aku pilih urutan pertama gizi fkub…
Dan….
.
.
.
Alhamdullillah aku lolos masuk PTN pilihan pertamaku…. huhuhu senangnya 😂😁😀 meskipun nilai UNku nggk terlalu bagus, beruntung nilai rapot mendukung.
Dan aku cerita ke bapak dan ibu, mereka senang sekali meskipun awalnya ibu seperti nggak merelakan kuliah di luar kota tapi akhirnya mengizinkan. (Terimakasih bu 😂)
Alasanku ingin menuntut ilmu diluar kota adalah ingin mencari ilmu tentang hidup serta ada sebuah syair islam yang berbunyi “Jika ingin ilmummu berkembang maka merantaulah”. THAT’S RIGHT. Aku sudah membuktikannya.
 Saat” awal masuk kuliah hingga sampe saat ini (uda mau jadi angkatan tertua *semoga tahun depan bisa wisuda*)
Aku benar" merasakan tidak salah aku memilih gizi sebagai tempat melanjutkan menuntut ilmuku… Apalagi ada quote:
“When diet is wrong, medicine is of no use. When diet is right medicine is of no need.” (Ayurvedic Proverb)
Hmm… quote yang benar" menjadikan aku sebagai calon Ahli Gizi cukup Bangga….😊😀😁
Apapun keadaan manusia hal yang berdampak langsung terhadap keadaan manusia ya makanan salah satu faktor utamanya… 😀😁😊
Youre what you eat!
Soon to be Your Future Nutritionist 😊🍎🍊🍋🍐🍉🍅🍌
Step closer… 😊
Malang, 5 Mei 2017



Anxiety of a Girl

Ada rasa takut. Sebenarnya.
Saat membicarakan seorang laki-laki, tepatnya tentang bagaimana seorang laki-laki yang nantinya menjadi imam dan kunci surga seorang perempuan.
Di usia yang sudah menginjak hampir ¼ abad (4 tahun lagi), mulai dari ibu, mami, tante dan beberapa saudara yang lain, yang semua notaben keluarga dari perempuan menunjukkan kekhawatiran mereka tentang kesendirianku, dan beberapa dari mereka masih belum paham kalau ‘pacaran’ tidak diajarkan dalam islam. Membuatku ingin menjelaskan, tetapi bibir seperti kelu menjelaskan karena takut salah kata yang menyinggungkan. Akhirnya, aku hanya bisa berdoa semoga mereka disadarkan oleh Allah swt tentang itu.
Benar-benar suatu pengorbanan yang berat untuk tetap teguh pada prinsip ini, prinsip yang hanya akan memulai hubungan dengan halal dimana sebagian besar orang disekitarku baik keluarga maupun teman tidak sepakat dengan hal itu dan beruntung ada sebuah Iman dari Rahmat Allah swt yang bisa menguatkan pada diri hingga saat ini.
Selain itu, dari sekian banyak cerita…
“Pada zaman ini, banyak laki-laki yang tidak baik, lelaki yang baik bisa dihitung dengan jari”, kata mereka yang menceritakan pengalaman menyedihkan atau menyakitkan tentang laki-laki. Ya. Ada perasaan takut sebagai seorang perempuan sebenarnya jika pengalaman itu menimpaku? Tapi aku selalu percaya kepadaNya, pasti masih ada laki-laki baik dalam arti yang sebenar-benarnya.
Sungguh…..
Dari hati yang paling dalam ku meminta, semoga Engkau mempertemukanku dan memberi rasa cinta dengan lelaki pilihanMu yang terbaik untukku, dengannya bisa membangun jalan ke SurgaMu, tanpa melupakan jasa orang tua yang telah membesarkanku.

- My Mind, Malang 15 Mei 2017



Aksesoris Perempuan

Terinspirasi dari Abu Syauqi

Suatu hari aku pernah ditanya, “Lin, perempuan yang bercadar itu wajahnya normal gak? Ada yang ditutup-tutupi (baca: cacat di wajah) gak sih?” Mendapat pertanyaan ini rasanya semacam tersengat listrik.
Pasalnya, perempuan-perempuan bercadar yang aku kenal itu mayoritas memilih bercadar dengan penuh perjuangan dan setelah mendapat referensi panjang soal cadar. Mereka mayoritas mendapat penentangan dari keluarga dan harus berjuang dalam waktu yang taksebentar untuk memahamkan keluarga.
Lantas, perjuangan yang “berdarah-darah” itu hanya ditimpali dengan pertanyaan macam demikian?? Aku langsung menjawab, “Pemahamanmu soal cadar dengan pemahaman perempuan-perempuan yang memutusakan untuk bercadar jelas berbeda.
Yang aku tahu, semua wajah temanku yang bercadar cantik dan normal. Mereka bercadar karena keimanan bukan karena menutupi kekurangan yang ada pada wajah.” Kejadian ini membuatku bertanya-tanya, “apakah aksesoris kebanggaan lelaki adalah perempuan (baca: istri) cantik?” Padahal, bukankan perhiasan yang paling indah di dunia hanya istri shalihah?!
Agama Adalah Kehormatan
Sepenting itukah kecantikan wajah bagi seorang laki-laki? Aku jadi ingat bagaimana Rasulullah Saw bercerita tentang kehormatan perempuan ketika dipilih menjadi pasangan hidup,
Abu Hurairah Ra berkata bahwa, Rasulullah Saw bersabda “Perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu: harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang taat beragama, engkau akan berbahagia.” (HR Bukhari dan Muslim).
Dipilih menjadi pasangan hidup karena keindahan agama lebih terhormat bagi perempuan ketimbang dipilih karena tiga kriteria sebelumnya, sesederhana apapun kondisi keimanan perempuan tersebut. Maka, perempuan beriman akan sangat mudah menolak lelaki yang memilihnya karena alasan kecantikan. Mengapa? Karena saat itu, ia sedang dihinakan secara terang-terangan.
Aksesoris Kebanggaan Perempuan
“Dunia ini penuh perhiasan dan perhiasan paling indah ialah perempuan shalihah.” (HR Muslim).
Penjelasan tentang istri shalihah ini secara ringkas disampaikan Allah Swt kepada Rasulullah Saw dalam Al Quran,
“Jika nabi menceraikan kamu, boleh jadi Allah Swt akan memberikan istri-istri yang lebih baik dari kamu, Perempuan yang patuh, beriman, taat, ahli taubat, ahli ibadah, ahli puasa, baik janda ataupun perawan,” (QS At Tahrim[66]:5).
Ayat tersebut adalah peringatan Allah Swt kepada istri-istri nabi yang membocorkan rahasia suaminya. Allah Swt menegur dengan “ancaman” perceraian. Dalam ayat tersebut disampaikan ciri-ciri perempuan yang lebih baik dari istri-istri nabi (Hafshah).
Ayat ini secara tidak langsung menyebutkan bahwa perempuan manapun bisa sama atau lebih baik dari istri nabi asalkan patuh, beriman, taat, ahli taubat, ahli ibadah, ahli puasa. Tidak disebutkan sedikitpun kecantikan dalam ayat tersebut.
Jika perhiasan yang paling indah bagi seorang laki-laki adalah istri shalihah, lantas apakah perhiasan yang paling membanggakan bagi seorang perempuan? Tentang hal ini, Abu Syuqi sempat berseloroh,
“Aksesori perempuan itu adalah laki-laki sukses!”
Pernyataan ini memang sangat singkat dan sederhana, tapi implementasinya perlu perjuangan. Pertanyaan besarnya adalah, sukses macam apa yang bisa menjadi kebanggan perempuan?
– Sukses menghadirkan Allah Swt dalam hatinya
Perempuan itu suka perhiasan dan suka memamerkannya. Itulah sebabnya banyak perempuan yang memperlihatkan kecantikan, harta, dan keluarganya kepada orang lain. Pamer adalah ekspresi cinta perempuan terhadap apa yang dicintainya. Cinta terhadap diri, dipamerkanlah dirinya. Cinta terhadap suami, dipamerkanlah suaminya. Cinta terhadap anak, dipamerkanlah anaknya.
Oleh sebab itu, perempuan perlu suami yang bisa meredam kecintaanya terhadap makhluk agar tidak berlebihan. Cinta sewajarnya saja, agar Allah Swt mau masuk ke dalam hati dan bertahta di sana. Agar setelah jadi ibu, ketika anak harus menikah dengan jodohnya, tidak terlalu berat melepasnya.
Biar suatu hari, pada waktunya, ketika suami harus pergi mendahului, istri tidak terlalu sedih karena itu adalah ketetapan terbaik. Ekstrimnya, agar bila Allah Swt menghendaki suami harus poligami, tidak ada perasaan memiliki. Suami adalah titipan Allah Swt yang harus dihormati, ditaati, dan dijadikan jalan untuk semakin dekat kepada-Nya. Suami yang bisa mendidik istrinya agar lebih mencintai Allah Swt daripada mencintai dirinya, inilah lelaki sukses.
– Sukses menjadikan keluarganya sebagai keluarga Al Quran
Saat ini mulai banyak orang yang menghafal dan hafal Al Quran 30 juz, tapi di antara mereka tetap banyak yang tidak tersentuh dengan cahaya Al Quran. Kemampuan mereka menghafal Al Quran hanya berdasarkan kecerdasan yang dimiliki. Al Quran tidak sedikitpun menjadi jalan hidayah yang menjadikan hidup lebih baik.
Demikianlah Allah Swt pun memilih siapa-siapa yang layak menjadi keluarga-Nya. Keluarga yang selalu belajar dan mengajarkan Al Quran akan menjadi keluarga Allah Swt.
Laki-laki sukses adalah mereka yang dapat menjadikan keluarganya sebagai keluarga Allah Swt. Al Quran tidak hanya dibaca, dihafalkan, tapi juga dijadikan tuntunan dalam menjalani hidup. Sulit? Bukan laki-laki sukses kalau tidak menjalani fase kesulitan ini.
Keluarga yang dibangun di dunia tentu selalu diharap-harap akan dibawa dengan selamat sampai ke surga. Tantangan menjadikan keluarga sebagai keluarga Al Quran ini adalah salah satu jalan paling aman untuk memboyong keluarga ke surga. Makanya, yang mampu melakukannya hanya laki-laki yang siap sukses.
– Sukses mebangun jarak antara keluarga dan dunia
Gemerlap dunia itu indah tapi menipu. Orang yang cinta dunia hitung-hitungannya hanya dunia. Sedekah baginya bukan hal yang mudah. Harta dihadapi dengan kacamata orang miskin. Uang hanya dikumpulkan tapi tidak memberikan sedikitpun manfaat bagi diri dan orang sekitarnya.
Hutang di mana-mana hanya karena ingin dilihat punya rumah pribadi, mobil pribadi, dan segala hal yang menjadi aksesoris dunia. Jabatan diincar untuk mencari kedudukan di mata manusia. Lelaki yang demikian biasanya tidak sukses mendidik istrinya. Sang istri justru menjadi kompor yang membuatnya semakin cinta dunia.
Laki-laki yang sukses itu bisa bekerja dengan visi da’wah. Mengumpulkan harta karena ada yang harus dibela dan dipertahankan izzahnya. “Seorang muslim harus kaya, untuk menjaga kehormatan Islam dan ummat muslim.” itulah yang ada dibenaknya ketika bekerja.
Lelaki sukses itu, keluarga tercukupi, sedekah rajin, hartanya bermanfaat bukan untuk dirinya dan keluarga tapi juga untuk kepentingan ummat. Gemerlapnya dunia tidak menyentuh hatinya sedikitpun. Dengan demikian, istrinya akan terdidik untuk berjarak dengan dunia.

*Sulit sekali mendalaminya, tapi aku sangat ingin menulisnya. maaf :’)

Dibuat oleh @langitshabrina karena kepala dan hatinya yg selalu penuh keinginan dan hal-hal yg setau saya selalu baik, walau kadang galak. (?)

Manajemen Waktu

Persepsi Tentang Manajemen Waktu
Sejak dulu, saya percaya bahwa manajemen waktu seseorang akan semakin baik seiring dengan semakin banyaknya kegiatan atau amanah yang perlu ditunaikan. Mengapa? Karena waktu-waktu dalam sehari yang sebagian besar diisi dengan produktivitas akan membuat kita merasa tidak punya banyak waktu luang, sehingga, suatu pekerjaan akan dikerjakan dengan lebih cepat dan efektif karena setelahnya perlu mengganti fokus untuk mengerjakan yang lainnya, dan begitulah seterusnya. Tak heran kiranya jika orang-orang yang berprestasi, baik di akademis maupun non-akademis, biasanya adalah orang-orang yang produktif memanfaatkan waktunya.


Bagaimana Saya Membagi Waktu?
Pertama, sebenarnya saya bukan tipe orang yang perfeksionis dalam memperlakukan waktu hingga terperinci menit demi menitnya saya perlu melakukan apa. Meskipun demikian, saya terbiasa mengelompokkan semua kegiatan yang perlu saya lakukan dalam kelompok penting atau genting. Ya, bagi saya semua penting, hal ini dilakukan supaya saya tidak melalaikan hal-hal kecil yang padahal sebenarnya perlu diselesaikan juga. Oleh karena itu, prioritas biasanya tidak terletak pada hal penting, tapi hal genting.

Kedua, menghadirkan fokus yang utuh setiap kali sedang mengerjakan sesuatu. Dengan alasan ini, saya seringkali menolak untuk mengerjakan pekerjaan kantor yang dibawa ke rumah, atau sebaliknya; kecuali memang sangat genting dan tidak bisa ditunda lagi, tapi sebisa mungkin saya mengupayakan agar hal-hal semacam ini tidak terjadi. Begitu juga dengan amanah-amanah dari luar yang bukan urusan kantor dan bukan juga urusan rumah, sebisa mungkin dikerjakan di waktu yang tidak menganggu satu sama lain.

Ketiga, jangan tunda-tunda tugas/pekerjaan/amanah yang bisa disegerakan. Bagi saya, dan mungkin juga bagi kita semua, ini adalah hal yang sulit. Tapi, penundaan atau prokrastinasi ini, jika tidak dihindari, maka akan berdampak banyak (dan biasanya buruk) bagi banyak hal: pekerjaan tidak selesai dengan optimal, amanah berceceran, rasa terburu-buru, daaan tanpa sadar membuat kita jadi malas.

Keempat, tidur dan makan yang cukup dan sehat. Korelasinya mungkin agak berjarak dengan manajemen waktu. Tapi, bagi saya ini penting, terutama untuk menjaga agar energi saya cukup untuk melakukan banyak hal dalam sehari. Saya hampir tidak pernah begadang, masih bangun sampai jam 12 malam adalah prestasi, hehe, karena kalau jam tidur terganggu tapi terbuang percuma, biasanya besok paginya saya moody dan uring-uringan. Saya juga hampir tidak pernah malas makan, karena kalau belum makan saya sulit fokus dan apa yang sedang dikerjakan biasanya jadi berantakan.

Kelima, bergerak dan teruslah bergerak melakukan sesuatu: belajar, berbagi, berdiskusi, berkarya, atau apa saja yang membuatmu positif dan produktif. Ini penting juga, karena kalau terlalu banyak diam nanti malah jadi malas.

Keenam, sesekali me-time itu boleh. Iya, meski seringnya banyak berkegiatan, paling tidak sekali dalam seminggu saya punya waktu sendiri (terutama jika sebelumnya habis bertemu dengan banyak orang). Apa yang dilakukan? Bebas, apapun yang menyenangkan: tidur, baca buku, nonton film kartun, lettering, atau lainnya. Hal ini biasanya bisa membangkitkan kesiapan supaya besoknya bisa produktif lagi.

Lalu, terakhir tapi utama, saya termotivasi oleh pembahasan dalam Al-Qur’an soal waktu, bahwa sebenarnya jika kita gagal mengelola waktu maka kita akan merugi karena waktu tidak akan pernah bisa kembali. Semenit berlalu, selamanya ia telah berlalu. Dan, penyesalan kita tidak pernah bisa mengembalikan apapun yang telah berlalu.

Begitu kira-kira yang bisa saya ceritakan. Ambil baiknya, buruknya jangan, ya. Semoga kita termasuk pada orang-orang yang percaya bahwa waktu adalah milik-Nya dan tugas kita adalah memanfaatkannya dengan baik; bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain.

- Repost from Tumblr Novieocktavia

Wejangan dari Ayah

Wejangan dari Ayah
Malam itu Ayah banyak bercerita, juga memberi beberapa wejangan untuk kuingat dan kulaksanakan kelak ketika aku menjadi seorang istri dan ibu bila beruntung. Pesan Ayah mungkin terdengar sederhana, tapi sangat penting dan berarti untukku. Barangkali tulisan ini akan mengingatkan jika kelak aku lupa pesan beliau. Kurang lebih begini pesannya :

Hubungan rumah tangga dasarnya adalah kepercayaan dan keterbukaan. Maka, jangan sesekali menutupi sesuatu yang nantinya bisa berakibat fatal. Terbukalah pada suamimu kelak, tentang apa saja. Sekalipun sesepele penghasilan yang ingin kauberi untuk orang tua kalian. Ridho suami itu segalanya bagi seorang istri. Jangan lupa meminta ijinnya untuk segala sesuatu yang ingin kaulakukan.

Orang tuanya adalah orang tuamu. Sayangi orang tuanya sebagaimana kamu menyayangi ayah dan ibu. Mereka orang tuamu, bukan hanya orang tua suamimu.
Jangan jadi istri yang suka membangkang. Terimalah apapun yang diberi suamimu. Jangan sampai sikapmu menjadi penghalang rejeki yang Allah beri. Hargai dan hormati suamimu. Ingatlah, sesakit dan sepahit apapun kehidupan yang akan kamu jalani kelak, terimalah dengan ikhlas.
Tugasmu bukan hanya melahirkan dan membesarkan anak. Yang utama adalah bagaimana kamu mendidik mereka menjadi generasi sami'na wa atho'na. Prestasi dan materi bukanlah hal penting bila tujuan rumah tanggamu adalah Jannah-Nya.
Bila dia datang melamar, jangan kautolak dia. Bersegeralah, semoga Allah mengijinkan ayah untuk menyaksikan dan menjadi wali pernikahanmu.

Aku hanya bisa terdiam menahan tangis dan mengangguk sesekali. Tak ada banyak kata yang bisa kuucap. Entahlah.

Repost from tumblr Obat penenang 

Bunsay 6 : Pantulan Warna Zona 6-7-8