Senin, 12 Maret 2018

Ma’rifatullah


Tulisan ini dibuat berselang hampir tiga bulan dari tulisan sebelumnya (SII #1 Bagian Pertama: Ma’rifatullah). Mohon maaf untuk lamanya jeda sebab banyak hal yang harus diprioritaskan terlebih dahulu. Mari kita lanjutkan yang sudah tertunda.

Mengenal Allah dengan memahami arti kata ‘Illah’, konsep ketuhanan dalam Islam:

Illah dalam لاإله إلاالله terdiri dari tiga huruf: Alif, Laam dan Haa. Merujuk ke kamus besar bahasa Arab, A-LI-HA memiliki beberapa arti:
1.Tenang/Tentram (سَكَنَ إِلَيْهِ)
Dengan mengambil makna Illah sebagai suatu yang tenang dan tentram, maka makna لاإله إلاالله adalah:
“Tidak ada yang dapat memberikan ketenangan dan ketentraman kecuali Allah”
Tidak ada hal lain yang bisa menenangkan hati dan memberikan ketentraman diri kecuali menjalin hubungan dengan Allah. Hal ini mengajarkan kita untuk selalu melihat segala sesuatu dalam hidup dengan pandangan positif, khusnudzon, tenang karena Allah tahu apapun yang berada dalam hati kita, Ia tahu yang kita butuhkan.
2.Memohon Perlindungan (اِسْتَجَارَ بِهِ)
Dengan mengambil makna Illah sebagai ‘memohon perlindungan’, maka makna لاإله إلاالله adalah:
“Tidak ada yang dapat memberikan perlindungan kecuali Allah”. 
Dalam Hadist Arba’in ke 19 pun telah disebutkan:
Abu Abbas Abdullah bin Abbas ra. berkata, suatu hari aku berada di belakang Rasulullah saw. [membonceng], Beliau bersabda, “Nak, aku hendak mengajarimu beberapa kalimat: Jagalah Allah, pasti Dia menjagamu. Jagalah Allah, Dia senantiasa bersamamu. Jika kamu memohon sesuatu, mohonlah kepada-Nya. Jika meminta pertolongan, mintalah tolong kepada-Nya. Ketahuilah seandainya semua umat manusia bersatu untuk memberikan suatu kebaikan kepadamu, mereka tidak akan mampu kecuali yang sudah ditetapkan Allah untukmu. Dan seandainya semua umat manusia bersatu untuk mencelakakanmu, mereka tidak mampu kecuali keburukan yang telah ditetapkan oleh Allah untukmu. Pena sudah diangkat dan tinta sudah kering.” (HR. Tirmidzi)
3.Yang Dituju karena Rindunya (اِشْتَاقَ إِلَيْهِ)
Makna Illah yang ketiga ini berarti لاإله إلاالله bermakna: 
“Tidak ada yang dapat pantas dituju karena rindunya kecuali Allah.”
Sudah sejatinya manusia menetapkan Allah sebagai tujuan utama. Sebab Allah-lah yang memberi hidup. Dengan menetapkan Allah sebagai tujuan utama, kita akan terhindar dari mudah berpaling dan mudah terbuai dengan hidup orang lain. Fokus pada tujuan utama, yaitu Allah akan mengajarkan kita untuk ikhlas dan ridho dengan apapun yang kita dapat sebab apapun yang telah diberikannya tentu yang terbaik tanpa perlu iri melihat kehidupan orang lain.
4.Paling Dicintai (وُلِعَ بِهِ)
Illah juga mempunyai arti ‘paling dicintai’. Maka لاإله إلاالله mempunyai makna: 
“Tidak ada yang paling dicintai dan dirindukan kecuali Allah.”
Kita semua tahu, satu-satunya cinta yang tidak bertepuk sebelah tangan adalah cinta Allah. Sekalipun kita sedang futur-futurnya, Allah tetap mencintai kita, bersabar menunggu kita mendekat kembali, tetap mengampuni jika kita memohon ampunan serta tetap mendengarkan saat kita berdoa. Maka tak ada dzat lain yang boleh mengalahkan cinta kepada Allah, tidak harta, tidak seseorang, atau apapun yang kita miliki di dunia.
Cinta mempunyai tabiatnya sendiri: pengorbanan. Maka, jika sudah cinta, seseorang akan rela berkorban untuk hal yang dicintainya. Tabiat inilah yang bisa kita jadikan tolok ukur seberapa cinta kita kepada Yang Maha Mencintai.
5.Mengabdi (عَبَدَهُ)
Arti Illah selanjutnya adalah ‘mengabdi’. Maka  لاإله إلاالله mempunyai makna
 “Tidak ada yang paling pantas untuk tempat mengabdi kecuali Allah.”
Makna ini adalah makna yang merangkum semua arti Illah lainnya. Yang memberi rasa tentram, Dzat di mana kita memohon pertolongan,  Dzat yang dituju, dirindu serta yang paling dicintai adalah yang paling sempurna menerima pengabdian kita seluruhnya.

Mengenal Allah dengan memahami Tauhid

Tauhid terbagi menjadi tiga, yaitu:
1.Tauhid Rububiyah
Tauhid rububiyah adalah meyakini kekuasaan Allah dalam mencipta dan mengatur alam semesta, misalnya meyakini bumi dan langit serta isinya diciptkan oleh Allah SWT.  Allah-lah yang mendatangkan badai dan hujan, Allah menggerakan bintang-bintang dan seluruh hal yang terjadi di dunia ini.
Bukti bahwa Allah-lah yang mempunyai kuasa mengatur alam semesta terdapat dalam beberapa ayat Al Qur’an
 “Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam” (QS. Al Fatihah: 1)
 “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintahNya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al A’raf: 54)
Seorang muslim sudah seharusnya mengakui tauhid rububiyah ini. Akan tetapi, hal ini belum cukup sebab kaum musyrik pun mengakui tauhid rububiyah ini. Kaum musyrik pun percaya bahwa Allah adalah Rabb yang mengatur alam semesta, sebagaimana yang terdapat dalam Surat Yunus:
“Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Allah’. Maka Katakanlah ‘Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?’” (QS. Yunus: 31)
Sebagai seorang muslim, kita tidak boleh berhenti hanya pada mengimani Allah sebagai Rabb pengatur alam semesta. Iman tersebut harus kita wujudkan dalam bentuk ibadah. Hal inilah yang disebut tauhid ibadah atau tauhid uluhiyah.
2.Tauhid Uluhiyah
Tauhid uluhiyah adalah tauhid ibadah. Maka tauhid uluhiyah ini dibangun di atas keikhlasan dalam beribadah kepada Allah ta'ala. Ibadah yang dilakukan dengan dasar kecintaan, khauf (takut), raja’ (harapan), tawakkal, raghbah (permohonan dengan sungguh-sungguh), rahbah (perasaan cemas), dan doa hanya bagi Allah satu-satunya.
Ibadah yang dilakukan dengan murni, baik ibadah yang lahir maupun yang batin hanya bagi Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya serta tidak menjadikan hal tersebut untuk selain-Nya. Tidak untuk malaikat yang dekat dengan Allah ta'ala, tidak pula bagi para nabi yang diutus, terlebih lagi bagi selain keduanya.
3.Tauhid Asma wa Sifat
Tauhid asma wa sifat adalah iman kepada nama dan sifat Allah. Seperti yang kita ketahui bersama, Allah mempunyai nama-nama agung dalam Asmaul Husna, seperti yang telah difirmankan-Nya
“Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki asma’ul husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalah-artikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. al-A’raf: 180)
Memahami nama dan sifat Allah akan membuat kita lebih percaya bahwa Allah Maha Segalanya. Kita sebagai seorang muslim akan lebih tenang dengan rizki yang kita terima  sebab Allah adalah Ar Razaaq (Yang Maha Memberi Rizki). Kita tenang saat memohon ampun karena yakin Allah adalah Al Ghaffaar (Yang Maha Pengampun). Kita tenang saat dicurangi orag lain sebab kita percaya bahwa Ia adalah Al ‘Adl (Yang Maha Adil). Mengimani nama-nama dan sifat Allah akan membuat kita semakin jatuh cinta serta merasa cukup. Cukup mangadu pada satu Dzat saja Yang Maha Segalanya, mengadu sejujur-jujurnya.

- Disarikan dari Materi Studi Islam Intensif YISC Al Azhar dan beberapa sumber lain -
Repost from Khoiriyalatifah

Bersiap Itu Melegakan, Berdiam Itu Melenakan

Tulisan ini panjang, tapi semoga menjelaskan banyak hal yang akan menggerakkanmu mengubah sesuatu terkait bagaimana kamu memandang pernikahan dan pengasuhan.
Bismillah!
Di penghujung tingkat akhir beberapa waktu yang lalu, ajakan kebaikan dari seorang sahabat telah mengubah banyak hal dalam hidup saya. Apa pasal? Sahabat saya menanyakan sebuah pertanyaan yang sepertinya dia sudah tahu bagaimana saya akan menjawabnya, “Nov, kemarin temanku ngajak aku untuk ikutan komunitas, namanya NuParents. Disana katanya sih akan belajar kesiapan mengasuh pra-nikah gitu. Aku langsung keinget kamu, ikutan yuk!” Tanpa pikir panjang, saya langsung sepakat.
Saat itu, bayangan saya mengenai parenting sangatlah sempit, sesempit seputar mengurus anak saja. Tapi ternyata, NuParents membentuk dan meluaskan persepsi saya sedemikian rupa, hingga saya menyadari bahwa kata ‘parenting’ memiliki makna yang begitu luas, juga dalam. Ibarat garis bilangan, NuParents mengajak orang-orang untuk kembali dulu ke titik nol atau bahkan minus sebelum melakukan pengasuhan, dan melakukan banyak rekonstruksi terlebih dahulu untuk kemudian melaju ke angka-angka bermuatan positif. 

Ada Apa dengan Kesiapan Mengasuh Pra-Nikah?

Mungkin ada yang bertanya-tanya tentang kalimat ‘kesiapan mengasuh pra-nikah’ seperti juga saya mempertanyakannya di awal-awal ketergabungan dengan mereka. Tapi lama-lama, saya jadi memahami bahwa kalimat itu benar adanya, sebab ternyata,
kesiapan mengasuh perlu diawali sebelum menikah, sebab ada banyak hal terkait diri sendiri, pengalaman masa lalu, dan bagaimana kita mempersepsikan sesuatu, yang akan berpengaruh pada bagaimana kita kelak mengasuh anak-anak kita.
Bagaimana kami belajar tentu tidak langsung membahas mengenai teknis mendidik anak seperti misalnya tentang bagaimana bersikap kalau anak sedang tantrum, bagaimana memilihkan sekolah, bagaimana pola kurikulum di dalam rumah, atau yang sejenisnya. Sebaliknya, kami mundur jauh terlebih dahulu hingga pembahasan mengenai diri sendiri seringkali menjadi dominan. Rasanya seperti naik roller coaster, sebab banyak hal di dalam hati dan pikiran saya (dan juga teman-teman lainnya) yang terobrak-abrik hampir di setiap sesi meet up rutinan. Tidak hanya itu, kami juga disadarkan untuk tidak terlalu mengedepankan perasaan dalam memikirkan pernikahan sehingga atmosfer yang terbentuk adalah atmosfer persiapan. Masa muda dengan segala kekhawatiran terkait masa depan ini memang tidak mudah untuk dilalui, tapi, setidaknya, NuParents adalah lingkaran yang menjaga kami agar tetap waras dalam memikirkan pernikahan.
Tidak seperti ‘kompor-kompor’ di luar sana yang seolah ramai mempropagandai anak muda agar cepat menikah, NuParents justru menjadi ‘kompor’ yang seolah mempropaganda kami untuk cepat-cepat belajar dan mempersiapkan pernikahan dan pengasuhan. Bukan hanya untuk calon isteri/ibu saja, tapi juga untuk calon suami/ayah.
Bagi saya pribadi, jika sedang merasa pertahanan mulai goyah karena godaan-godaan dari luar, atau jika kantong emosi mulai hampir meledak, NuParents selalu berhasil menjadi lingkaran sehat yang mengembalikan kewarasan saya dan mengingatkan untuk tetap bersikap benar. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah membuat saya tercebur dalam lingkaran kebaikan ini.

Lalu, Mengapa Perlu Belajar dan Mempersiapkan (Sejak Dini)?

Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang dulu berkali-kali saya tanyakan. Ternyata jawaban yang saya dapat di NuParents cukup membuat saya tercengang, sebab, pengetahuan tentang hal itu bukanlah sesuatu yang pernah saya dapatkan sebelumnya perkuliahan. Memangnya apa yang terjadi?
Sebagai generasi milenials, saat ini kita sedang menghadapi tantangan besar, yaitu gap generasi dan perbedaan persepsi mengenai kesiapan mengasuh. Kebanyakan orangtua kita dulu membesarkan anak-anaknya dengan pengetahuan seadanya karena menganggap bahwa pengasuhan adalah hal natural yang bisa didapatkan seiring dengan berjalannya waktu. Dampaknya, saat ini kita tidak tumbuh sebagai individu yang dipersiapkan untuk menjadi isteri, suami, bahkan orangtua. Padahal, perkembangan zaman dan situasi dunia hari ini menuntut kita untuk siap dalam menghadapi tantangan-tantangan dalam mengasuh anak sebagaimana pesan Ali bin Abi Thalib agar kita mendidik anak-anak sesuai zamannya. 
Selain itu, satu hal yang baru saya ketahui dari NuParents adalah parenting is all about wiring, sehingga sangat masuk di akal apabila kesiapan mengasuh memang perlu diawali dengan berdamai dengan diri sendiri, memaafkan masa lalu, serta memaafkan juga kesalahan-kesalahan orangtua yang mungkin dulu pernah dilakukannya tanpa sengaja, agar rantai kesalahan itu tidak menjadi kasus berulang yag kita tularkan kepada anak-anak kita.
Tapi, di atas semua itu, motivasi terbesar tetaplah bersumber dari surat cinta-Nya, sebuah ayat yang hampir selalu dibacakan sebelum kami memulai belajar,
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Q.S An-Nisa : 9)
Nah lho! Tidakkah peringatan itu membuat kita takut dan bersegera bergerak untuk mempersiapkan? Ayo belajar, yuuuuk :”)

Tapi, Bukankah Belajar Itu Terkadang Melelahkan?

Iya, benar sekali! Saya sepakat bahwa belajar itu suatu ketika akan menemui titik jenuh yang melelahkan. Disitulah barangkali memang letak ujiannya.Sejak awal sampai sekarang, beberapa kali saya mengalami maju mundur, lelah, dan bahkan merasa flooded karena pembahasan mengenai hal ini seolah dibahas dimana-mana. Hingga suatu hari, saya pernah bertanya pada senior yang sudah menikah, “Teh, aku capek banget belajar. Lama-lama aku pusing dan rasanya pengen engga belajar lagi meski aku sadar kalau aku mikir kayak gitu berarti aku lagi salah banget. Aku harus gimana, sih?” Lalu, teteh itu menjawab,
“Nov, kesiapan hadir karena ilmu, ketakutan hilang karena ilmu, kekhawatiran juga pergi karena ilmu. Capek belajar wajar, tapi memilih berhenti itu engga wajar. Diorganisir lagi aja waktu dan energinya, dan coba bikin ketersambungan antara hal-hal yang dipelajari itu, biar jadi sistematis juga mikirnya.”
Aha! Ternyata teteh itu benar. Rupanya, kelelahan belajar itu tidak pernah bersumber dari materi yang dipelajari, tapi lebih bersumber pada apa-apa yang ada di dalam diri.

Akankah Semua Ini Bermuara pada Bahteranya?

Pada prinsipnya, tidak ada seorang pun dari kita yang akan bisa mengetahui atau minimal menebak-nebak apa yang akan terjadi di masa depan. Pena telah mengering dan takdir telah tertuliskan. Tidak pernah ada yang tahu apakah pengalaman pernikahan dan pengasuhan ini akan kita rasakan atau tidak, meski kita sudah belajar. Tapi, tidak pernah ada yang salah dengan belajar dan mempersiapkan, bukan? Seperti yang ditulis oleh Kang Canun dan Teh Fufu dalam salah satu bukunya, kurang lebih begini, 
“Belajar dan mempersiapkan adalah tentang bagaimana kita berjuang untuk menjadi orang yang beruntung, yaitu orang yang hari esoknya akan lebih baik dari hari kemarinnya.”
Yup! Kalimat itu bisa menjadi penguat bagi kita, bahwa pembelajaran dan persiapan yang dilakukan adalah dalam rangka menjadi manusia yang lebih baik, yang mengupayakan ibadah kepada-Nya dengan upaya terbaik.
Tentang hal ini, pernah ada air mata yang beberapa kali terjatuh. Seperti misalnya ketika meet up selesai lalu terlintas di pikiran, “Akankah yang tadi dipelajari itu akan bertemu dengan kesempatan perwujudannya?” Sedih, tapi bagaimana pun pertanyaan itu bukanlah pertanyaan yang perlu susah payah dicari-cari jawabannya, sebab semua sudah ada dalam ketetapan-Nya.
Sore tadi, saat sedang membicarakan sesuatu terkait NuParents, saya dan @likalulu tiba-tiba saja saling bercerita, “Lika, engga kebayang ya gimana nanti ke depan. Kadang aku sedih kalau abis selesai belajar karena engga kebayang banget apakah nanti Allah akan kasih kesempatan untuk mengamalkannya atau engga. Sejujurnya sepulang dari belajar KBBM itu aku nangis, tiba-tiba gemeter gitu karena bertanya-tanya apakah aku akan sampai kesana atau engga. Lalu aku merasa alay kenapa aku nangis~”
Entah apa yang sedang dipikirkan Lika saat itu, tapi kami merasakan hal yang sama. Lalu Lika menjawab, kurang lebih begini,
“Sama Nov, tapi insyaAllah selalu berbaik sangka sama Allah, ya! Allah kasih ilmunya, insyaAllah dikasih kesempatan juga buat mengamalkannya. Aku hanya ingin memastikan ada di lingkaran yang baik dalam rangka mempersiapkan diri. Kita engga tau mana yang duluan datang, mati atau nikah. Tapi selagi menuju itu dijalani buat Allah, semoga Allah selalu ridho.”
Duar! Meletus balon hijau~ 
Pada intinya, entah nanti Allah akan pertemukan dengan pernikahan dan pengasuhan atau tidak, semoga kita terus belajar, mempersiapkan diri, dan berbaik sangka kepada Allah, agar semoga setiap upaya itu bisa menjadi amal shalih dan kebaikan yang berantai-rantai meski mungkin kita nanti telah berpulang.
Tulisan ini adalah pemantik yang semoga menggerakkanmu untuk belajar dan bersiap sejak dini, bahkan mungkin sejak belum terpikir olehmu tentang dengan siapa kamu akan menikah nanti. Belajarnya tidak perlu hanya di NuParents, kamu bisa belajar dimana pun dan dari mana pun, tentunya asal dari sumber yang benar dan terpercaya, ya! Tapi, kalau ingin belajar dengan NuParents, insyaAllah kita bisa belajar bareng hari Sabtu tanggal 21 Oktober 2017 di Bandung. Cek info lengkapnya di tautan berikut ini.
Selamat belajar, selamat mempersiapkan (kedatangan)! Sebab, bersiap itu melegakan, sementara berdiam itu melenakan karena kemungkinan paling mungkinnya adalah berujung pada kegalauan. Semoga Allah memudahkan setiap niat baik dan mempertemukannya dengan jalan-jalan terbaik.InsyaAllah, semoga sebentar lagi sampai :”)








































































































































































































Repost from Novieocktavia

Bunsay 6 : Pantulan Warna Zona 6-7-8