Sabtu, 09 Maret 2019

NHW#6 Kelas Matrikulasi IIP B-7: BELAJAR MENJADI MANAJER KELUARGA HANDAL

Bismillahirachmannirrochim…

Halo… Hola… Apakabar semua? Annisa doakan Semoga baik 😌, Aamiin. Semakin detik bergulir tak terasa hampir di hilir, dan pemahaman amanah menjadi Ibu Profesional kian mengalir (puisi bentar hehehe), nggk kerasa uda setengah perjalanan, Alhamdullillah masih strong untuk melawan rasa malas belajar menjadi calon ibu profesional. Yuk, yuk, yuk! Intip tugas NHW#5 nya, check it out!\

*BELAJAR MENJADI MANAJER KELUARGA HANDAL*

Bunda, sekarang saatnya kita masuk dalam tahap “belajar menjadi manajer keluarga yang handal. Mengapa? karena hal ini akan mempermudah bunda untuk menemukan peran hidup kita dan semoga mempermudah bunda mendampingi anak-anak menemukan peran hidupnya.

Ada hal-hal yang kadang mengganggu proses kita menemukan peran hidup yaitu RUTINITAS. Menjalankan pekerjaan rutin yang tidak selesai, membuat kita “Merasa Sibuk”, sehingga kadang tidak ada waktu lagi untuk proses menemukan diri.

Maka ikutilah tahapan-tahapan sbb :
Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting
Waktu anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?
Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup anda, tengok NHW sebelumnya ya, agar selaras.
Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi cut off time ( misal anda sudah menuliskan bahwa bersih-bersih rumah itu dari jam 05.00-06.00, maka patuhi waktu tersebut)

Jangan ijinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian anda.

Setelah tahap di atas selesai anda tentukan. Buatlah jadwal harian yang paling mudah anda kerjakan. (Contoh kalau saya membuat jadwal rutin saya masukkan di subuh-jam 07.00 – jadwal dinamis ( memperbanyak jam terbang dari jam 7 pagi- 7 malam, setelah jam 7 malam kembali ke aktivitas rutin yang belum selesai. sehingga muncul program 7 to 7)

Amati selama satu minggu pertama, apakah terlaksana dengan baik?
kalau tidak segera revisi, kalau baik, lanjutkan sampai dengan 3 bulan.

SELAMAT MENGERJAKAN

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/

Oke, time to do Nice Home Work #6
1.    Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting!
3 aktivitas yang penting:
Ø  Beribadah (sholat, mengaji, dan berdzikir),
Ø  Mengabdi kepada orang tua (mengerjakan tugas domestik rumah),
Ø  Membaca buku dan mendengarkan kajian/seminar islami, motivasi, dan parenting
3 aktivitas yang tidak penting
Ø  Berselancar di sosial media
Ø  Menonton  tv
Ø  Tidur

2.    Waktu anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?
3 aktivitas penting dan 3 aktivitas tidak penting keduanya seimbang menghabiskan waktu saya, tetapi seringnya dihabiskan pada 3 aktivitas penting.

3.    Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup anda, tengok NHW sebelumnya ya, agar selaras.
ΓΌ  Beribadah
-          Sholat 5 waktu tepat waktu
-          Qiyamul lail setiap hari
-          Puasa Sunnah senin-kamis
-          Membaca Al-Qur’an 1 juz/hari
-          Almatsurat pagi dan malam
-          Solat Sunnah rawatib minimal qobliyah subuh, ba’da ashar, dan ba’da maghrib
-          Mendengarkan kajian dari mp3/youtube minimal 1x/hari
-          Mengikuti kajian rutin minimal 1 kali/minggu
ΓΌ  Mengabdi kepada orang tua
-          Memasak nasi untuk sarapan
-          Memasak makanan untuk sarapan, makan siang, dan makan malam
-          Belanja bahan makanan dan kebutuhan sehari-hari
-          Memasak air untuk minuman orang tua
-          Mencuci piring
-          Menyapu rumah
-          Mencuci baju 3x/minggu
-          Menyetrika 3x/hari
-          Memijat ayah/ibu jika diminta
ΓΌ  Membaca dan mendengar
-          Membaca buku tentang parenting minimal 1x/bulan
-          Menghadiri seminar parenting minimal 1x/bulan atau mendengarkan dari youtube jika tidak ada seminar dalam satu bulan terakhir di kota tempat tinggal
-          Mendengarkan kajian terkait parenting
-          Mengikuti tahapan-tahapan kelas matrikulasi institute ibu profesional

4.    Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi cut off time ( misal anda sudah menuliskan bahwa bersih-bersih rumah itu dari jam 05.00-06.00, maka patuhi waktu tersebut)
Untuk “kandang waktu” saya membagi dua tabel, Yaitu tabel “weekdays” dan “weekend”.
*      Tabel Weekdays
Kandang waktu
Aktivitas
Lain-lain
03.00 – 04.00
Ø  Bangun tidur
Ø  Mandi dan wudhu
Ø  Sholat malam
Ø  Membaca Al-Qur’an
Ø  Dzikir
Ø  Memasak nasi

04.00 – 05.00
Ø  Sholat subuh
Ø  Membaca Al-Qur’an
Ø  Dzikir almatsurat

05.00 – 06.30
Ø  Bersepedah (minggu, selasa, kamis, jumat)
Ø  Sarapan (selain senin dan kamis jika tidak sedang haid)
Cuci baju keluarga (senin, rabu, sabtu) sekaligus mendengarkan kajian islami
06.30 – 07.00
Ø  Berbelanja sayuran dan bahan makanan lain

07.00 – 09.00
Ø  Memasak makanan
Ø  Menyapu
Ø  Mencuci piring

09.00 – 10.00
Ø  Sholat dhuha
Ø  Membaca Al-Qur’an

10.00 – 11.30
Ø  Istirahat santai dengan membaca buku parenting

11.30 – 12.30
Ø  Sholat dhuhur
Ø  Membaca Al-Qur’an

12.30 – 14.00
Ø  Makan siang (selain senin dan kamis jika tidak sedang haid)
Ø  Tidur siang

14.00 – 15.00
Ø  Setrika baju

15.00 - 16.00
Ø  Mandi
Ø  Sholat ashar
Ø  Dzikir almatsurat
Ø  Membaca Al-Qur’an

16.00 – 17.00
Ø  Menyiapkan makan malam
Ø  Memasak air

17.00 – 17.45
Ø  Membaca buku parenting atau
Ø  Mendengarkan seminar terkait parenting atau pengembangan diri lainnya atau kajian islam di youtube

17.45 – 18.30
Ø  Sholat maghrib
Ø  Membaca Al-Qur’an

18.30 – 19.00
Ø  Makan malam
Ø  Berbincang-bincang dengan keluarga

19.00 – 19.30
Ø  Sholat isya
Ø  Membaca Al-Qur’an

19.30 – 21.00
Ø  On wa kelas matrikulasi (senin-sabtu)
Ø  Jika hari minggu memanfaatkan dengan family time
21.00 – 03.00
Ø  Tidur malam


*      Tabel weekend (Hari Minggu)
Kandang waktu
Aktivitas
Lain-lain
03.00 – 04.00
Ø  Bangun tidur
Ø  Mandi dan wudhu
Ø  Sholat malam
Ø  Membaca Al-Qur’an
Ø  Dzikir
Ø  Memasak nasi

04.00 – 05.00
Ø  Sholat subuh
Ø  Membaca Al-Qur’an
Ø  Dzikir almatsurat

05.00 – 06.30
Ø  Bersepedah (minggu, selasa, kamis, jumat)
Ø  Sarapan (selain senin dan kamis jika tidak sedang haid)
Cuci baju keluarga (senin, rabu, sabtu) sekaligus mendengarkan kajian islami
06.30 – 07.00
Ø  Shalat dhuha

07.00 – 11.30
Ø  Family time

11.30 – 12.30
Ø  Sholat dhuhur
Ø  Membaca Al-Qur’an

12.30 – 14.00
Ø  Makan siang (selain senin dan kamis jika tidak sedang haid)
Ø  Tidur siang

14.00 – 15.00
Ø  Setrika baju

15.00 - 16.00
Ø  Mandi
Ø  Sholat ashar
Ø  Dzikir almatsurat
Ø  Membaca Al-Qur’an

16.00 – 17.00
Ø  Menyiapkan makan malam
Ø  Memasak air

17.00 – 17.45
Ø  Membaca buku parenting atau buku pengembangan diri lainnya
Ø  Mendengarkan seminar terkait parenting atau kajian islam di youtube

17.45 – 18.30
Ø  Sholat maghrib
Ø  Membaca Al-Qur’an

18.30 – 19.00
Ø  Makan malam
Ø  Berbincang-bincang dengan keluarga

19.00 – 19.30
Ø  Sholat isya
Ø  Membaca Al-Qur’an

19.30 – 21.00
Ø  hari minggu memanfaatkan dengan family time

21.00 – 03.00
Ø  Tidur malam


5.    Jangan ijinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian anda.
  • Bismillah, semoga diistiqomahkan menjaga jadwal harian ini.


6.    Setelah tahap di atas selesai anda tentukan. Buatlah jadwal harian yang paling mudah anda kerjakan.
Saya merencanakan program 10 to 8
Waktu
Kegiatan
03.00-10.00
Aktivitas rutin
10.00-19.00
Aktivitas rutin dan dinamis
19.00-20.00
Aktivitas rutin dan dinamis

7.    Amati selama satu minggu pertama, apakah terlaksana dengan baik?
kalau tidak segera revisi, kalau baik, lanjutkan sampai dengan 3 bulan.
Bismillah siap, Insya’Allah.

Jadwal ini akan berubah jika sudah diamanahi Allah SWT mendapat gelar seorang istri dan seorang ibu.
Baik, terimakasih sudah berkunjung dan membaca My Nice Homework –ku, semoga bermanfaat, oiya dapat senyuman manis 😍 nih dariku.

- Salam Hangat, Annisa Putri Aryati (Mahasiswi MIIP B7 – Regional Surabaya Raya)
#TugasNHW6 #MatrikulasiIIPB7


Sabtu, 02 Maret 2019

Sosok Ibu Pendiri Institut Ibu Profesional

Siapa yang tidak ingin menjadi Ibu seperti Septi Peni Wulandani?



Tiga anaknya tidak sekolah di sekolah formal layaknya anak-anak pada umumnya. Tapi ketiganya mampu menjadi anak teladan, dua di antaranya sudah kuliah di luar negeri di usia yang masih sangat muda. Saya cuma berdecak gemetar mendengarnya. Bagaimana bisa?

Namanya Ibu Septi Peni Wulandani. Kalau kita search nama ini di google, kalian akan tahu bahwa Ibu ini dikenal sebagai Kartini masa kini. Beliau seorang ibu rumah tangga profesional, penemu model hitung jaritmatika, juga seorang wanita yang amat peduli pada nasib ibu-ibu di Indonesia.

Seorang wanita yang ingin mengajak wanita Indonesia kembali ke fitrahnya sebagai wanita seutuhnya. Beliau bercerita kiprahnya sebagai ibu rumah tangga yang mendidik tiga anaknya dengan cara yang bahasa kerennya anti mainstream. It’s like watching 3 Idiots. But this is not a film. This is a real story from Salatiga, Indonesia.

Semuanya berawal saat beliau memutuskan untuk menikah. Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa pernikahan adalah peristiwa peradaban, untuk kisah Ibu Septi, pepatah itu tepat sekali. Di usianya yang masih 20 tahun, Ibu Septi sudah lulus dan mendapat SK sebagai PNS. Di saat yang bersamaan, beliau dilamar oleh seseorang. Beliau memilih untuk menikah, menerima lamaran tersebut.

Namun sang calon suami mengajukan persyaratan: beliau ingin yang mendidik anak-anaknya kelak hanyalah ibu kandungnya. Artinya? Beliau ingin istrinya menjadi seorang ibu rumah tangga. Harapan untuk menjadi PNS itu pun pupus. Beliau tidak mengambilnya. Ibu Septi memilih menjadi ibu rumah tangga. Baru sampai cerita ini saja saya sudah gemeteran. Akhirnya beliau pun menikah.

Pernikahan yang unik. Sepasang suami istri ini sepakat untuk menutup semua gelar yang mereka dapat ketika kuliah. Aksi ini sempat diprotes oleh orang tua, bahkan di undangan pernikahan mereka pun tidak ada tambahan titel/ gelar di sebelah nama mereka. Keduanya sepakat bahwa setelah menikah mereka akan memulai kuliah di universitas kehidupan. Mereka akan belajar dari mana saja.

Pasangan ini bahkan sering ikut berbagai kuliah umum di berbagai kampus untuk mencari ilmu. Gelar yang mereka kejar adalah gelar almarhum dan almarhumah. Subhanallah……Tentu saja tujuan mereka adalah khusnul khatimah. Sampai di sini, sudah kebayang kan bahwa pasangan ini akan mencipta keluarga yang keren? Ya, keluarga ini makin keren ketika sudah ada anak-anak hadir melengkapi kehidupan keluarga.

Dalam mendidik anak, Ibu Septi menceritakan salah satu prinsip dalam parenting adalah demokratis, merdekakan apa keinginan anak-anak. Begitu pun untuk urusan sekolah. Orang tua sebaiknya memberikan alternatif terbaik, lalu biarkan anak yang memilih. Ibu Septi memberikan beberapa pilihan sekolah untuk anaknya: mau sekolah favorit A? Sekolah alam? Sekolah bla bla bla. Atau tidak sekolah? Dan wow, anak-anaknya memilih untuk tidak sekolah. Tidak sekolah bukan berarti tidak mencari ilmu kan?

Ibu Septi dan keluarga punya prinsip: Selama Allah dan Rasul tidak marah, berarti boleh. Yang diperintahkan Allah dan Rasul adalah agar manusia mencari ilmu. Mencari ilmu tidak melulu melalui sekolah kan? Uniknya, setiap anak harus punya project yang harus dijalani sejak usia 9 tahun. Dan hasilnya?

Enes, anak pertama. Ia begitu peduli terhadap lingkungan, punya banyak project peduli lingkungan, memperoleh penghargaan dari Ashoka, masuk koran berkali-kali. Saat ini usianya 17 tahun dan sedang menyelesaikan studi S1nya di Singapura. Ia kuliah setelah SMP, tanpa ijazah. Modal presentasi. Ia kuliah dengan biaya sendiri bermodal menjadi seorang financial analyst. Bla bla bla banyak lagi. Keren banget.

Saat kuliah di tahun pertama ia sempat minta dibiayai orang tua, namun ia berjanji akan menggantinya dengan sebuah perusahaan. Subhanallah. Uang dari orang tuanya tidak ia gunakan, ia memilih menjual makanan door to door sambil mengajar anak-anak untuk membiayai kuliahnya.

Ara, anak kedua. Ia sangat suka minum susu dan tidak bisa hidup tanpa susu. Karena itu, ia kemudian berternak sapi. Pada usianya yang masih 10 tahun, Ara sudah menjadi pebisnis sapi yang mengelola lebih dari 5000 sapi. Bisnisnya ini konon turut membangun suatu desa. WOW! Sepuluh tahun gue masih ngapain? Dan setelah kemarin kepo, Ara ternyata saat ini juga tengah kuliah di Singapura menyusul sang kakak.

Elan, si bungsu pecinta robot. Usianya masih amat belia. Ia menciptakan robot dari sampah. Ia percaya bahwa anak-anak Indonesia sebenarnya bisa membuat robotnya sendiri dan bisa menjadi kreatif. Saat ini, ia tengah mencari investor dan terus berkampanye untuk inovasi robotnya yang terbuat dari sampah. Keren!! Saya cuma menunduk, what I’ve done until my 20. Banyak juga peserta yang lalu bertanya, “kenapa cuma 3, Bu?” hehe.

Dari cerita Ibu Septi sore itu, saya menyimpulkan beberapa rahasia kecil yang dimiliki keluarga ini, yaitu:

Anak-anak adalah jiwa yang merdeka, bersikap demokratis kepada mereka adalah suatu keniscayaan.
Anak-anak sudah diajarkan tanggung jawab dan praktik nyata sejak kecil melalui project. Seperti yang saya bilang tadi, di usia 9 tahun, anak-anak Ibu Septi sudah diwajibkan untuk punya project yang wajib dilaksanakan. Mereka wajib presentasi kepada orang tua setiap minggu tentang project tersebut.
Meja makan adalah sarana untuk diskusi. Di sana mereka akan membicarakan tentang ‘kami’, tentang mereka saja, seperti sudah sukses apa? Mau sukses apa? Kesalahan apa yang dilakukan? Oh ya, keluarga ini juga punya prinsip, “Kita boleh salah, yang tidak boleh itu adalah tidak belajar dari kesalahan tersebut”. Bahkan mereka punya waktu untuk merayakan kesalahan yang disebut dengan “false celebration”.
Rasulullah SAW sebagai role model. Kisah-kisah Rasul diulas. Pada usia sekian Rasul sudah bisa begini, maka di usia sekian berarti kita juga harus begitu. Karena alasan ini pula Enes memutuskan untuk kuliah di Singapura, ia ingin hijrah seperti yang dicontohkan Rasulullah. Ia ingin pergi ke suatu tempat di mana ia tidak dikenal sebagai anak dari orang tuanya yang memang sudah terkenal hebat.
Mempunyai vision board dan vision talk. Mereka punya gulungan mimpi yang dibawa ke mana-mana. Dalam setiap kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat, mereka akan share mimpi-mimpi mereka. Prinsip mimpi: Dream it, share it, do it, grow it!
Selalu ditanamkan bahwa belajar itu untuk mencari ilmu, bukan untuk mencari nilai.
Mereka punya prinsip harus jadi entrepreneur. Bahkan sang ayah pun keluar dari pekerjaannya di suatu bank dan membangun berbagai bisnis bersama keluarga. Apa yang ia dapat selama bekerja ia terapkan di bisnisnya.
Punya cara belajar yang unik. Selain belajar dengan cara homeschooling di mana ibu sebagai pendidik, belajar dari buku dan berbagai sumber, keluarga ini punya cara belajar yang disebut Nyantrik. Nyantrik adalah proses belajar hebat dengan orang hebat. Anak-anak akan datang ke perusahaan besar dan mengajukan diri menjadi karyawan magang. Jangan tanya magang jadi apa ya, mereka magang jadi apa aja. Ngepel, membersihkan kamar mandi, apapun. Mereka pun tidak meminta gaji. Yang penting, mereka diberi waktu 15 menit untuk berdiskusi dengan pemimpin perusahaan atau seorang yang ahli setiap hari selama magang.
Hal terpenting yang harus dibangun oleh sebuah keluarga adalah kesamaan visi antara suami dan istri. That’s why milih jodoh itu harus teliti. Hehe… Satu cinta belum tentu satu visi, tapi satu visi pasti satu cinta.
Punya kurikulum yang keren, di mana pondasinya adalah iman, akhlak, adab, dan bicara.
Di-handle oleh ibu kandung sebagai pendidik utama. Ibu bertindak sebagai ibu, partner, teman, guru, semuanya. Daaaan masih banyak lagi.
Hhhhmmm… Gimana? Profesi ibu rumah tangga itu profesi yang keren banget bukan? Ia adalah kunci awal terbentuknya generasi brilian bangsa.

Saya ingat cerita Ibu Septi di awal kondisi beliau menjadi ibu rumah tangga. Saat itu beliau iri melihat wanita sebayanya yang berpakaian rapi pergi ke kantor sedangkan beliau hanya mengenakan daster. Jadilah beliau mengubah style-nya. Jadi Ibu rumah tangga itu keren, jadi tampilannya juga harus keren, bahkan punya kartu nama dengan profesi paling mulia: housewife.

So, masih zaman berpikiran bahwa ibu rumah tangga itu sebatas sumur, kasur, lalala yang haknya terinjak-injak dan melanggar HAM? Duh please, housewife is the most presticious career for a woman, right? Tapi semuanya tetap pilihan. Dan setiap pilihan punya konsekuensi. Jadi apapun kita, semoga tetap menjadi pendidik hebat untuk anak-anak generasi bangsa.

Dari kisah di atas, saya juga menarik kesimpulan bahwa seminar kepemudaan tidak melulu bahas tentang organisasi, isu-isu negara, dan lain-lain yang biasa dibahas. Pemuda juga perlu belajar ilmu parenting untuk bekal dalam mendidik generasi penerus bangsa ini. Bukankah dari keluarga karakter anak itu terbentuk?

Sumber : Kompasiana
Ibu Septi Peni Wulandari adalah founder Instutut Ibu Profesional

Jumat, 01 Maret 2019

NHW#5 Kelas Matrikulasi IIP B-7: Learning How To Learn

Bismillahirachmannirrochim… 😊

Hola… Hola… Apakabar semua? Semoga baik. Sssssttt…. Uda NHW#5 nih, nggak kerasa kan ya? By the way di NHW#5 kali ini tugasnya adalah merancang desain pembelajaran (sekilas belajar jadi guru nih ). Yuk, yuk, yuk! Intip tugas NHW#5 nya, check it out!

*BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR* (_Learning How to Learn_)



Setelah malam ini kita mempelajari tentang “Learning How to Learn” maka kali ini kita akan praktek membuat Design Pembelajaran ala kita. Kami tidak akan memandu banyak, mulailah mempraktekkan "learning how to learn" dalam membuat NHW #5. Munculkan rasa ingin tahu bunda semua tentang apa itu design pembelajaran. Bukan hasil sempurna yg kami harapkan, melainkan "proses" anda dalam mengerjakan NHW #5 ini yg perlu anda share kan ke teman-teman yg lain. Selamat Berpikir, dan selamat menemukan hal baru dari proses belajar anda di NHW #5 ini.



Salam Ibu Profesional.


Tuh… iya kan, tugasnya hampir mirip seperti guru dan memang ini merupakan tahap bagi calon ibu (acung tangan) dan ibu untuk menjadi sebagai madrasah pertama bagi calon buah hati tercinta dariNya.

Bismillah… Mulai yaa…

Sebelum membahas tentang desain pembelajaran, aku ingin share 6W1H terkait ilmu yang inginku pelajari dan diterapkan dalam keluarga, ini dia lihat gambar dulu ya dan dibawahnya penjelasannya:


What?  -> Apa yang ingin dipelajari?
Ilmu yang ingin kupelajari terbagi menjadi dua prioritas yaitu
  1.  Ilmu Parenting : sebagai pedoman menjadi ibu dan istri profesional
  2.  Ilmu gizi (Nutrition) : sesuai dengan amanah ilmu yang diberikan oleh Allah SWT

Where? -> Dimana aplikasi penerapan dari ilmu tersebut?
Aplikasi penerapan dari ilmu Parenting dan Nutrition
  1. Keluarga kecil : untuk menjadi keluarga yang kuat dari dalam rumah
  2.  Keluarga besar : untuk menjadi inspirasi keluarga di keluarga besar
  3.  Masyarakat : untuk menjadi inspirasi keluarga di masyarakat

Who? -> Siapa saja yang terlibat dalam penerapan ilmu tersebut?
Subjek-subjek yang terlibat dalam penerapan ilmu tersebut adalah
  1. Saya/Ibu/Istri
  2. Ayah/Suami
  3. Anak-anak

When? -> Kapan mempelajari ilmu tersebut?
  1. Before Marriage : seperti saat ini, upayaku memantaskan diri menjadi istri dan ibu profesional
  2. After Marriage : nanti setelah menikah, semoga Allah SWT memberikan amanah gelar seorang istri dan ibu, Aamiin.


Why? -> Mengapa perlu mempelajari ilmu tersebut?
Karena sesuai rancangan misi keluarga yang kubuat yaitu menjadi keluarga yang kuat dari dalam rumah dan ilmu-ilmu tersebut menurutku merupakan ilmu penting dalam membangun keluarga yang kuat:
  1. Untuk menguatkan Iman dan Akhlak yang baik dari dalam rumah -> tidak mudah terpengaruhi pengaruh negatif dari luar
  2. Untuk menguatkan jalinan kasih sayang dari dalam rumah -> menjadikan rumah tempat ternyaman untuk pulang atau surga dunia untuk keluarga
  3. Untuk menguatkan ilmu, minat, dan bakat dari dalam rumah -> siap menebarkan kebermanfaatan berdasarkan kemampuan dari dalam diri untuk masyarakat

Which one? -> Ilmu parenting yang mana yang menjadi landasan?
Ilmu parenting yang berlandaskan Al-Qur’an dan Hadist.

How? -> bagaimana penerapan ilmu-ilmu tersebut?
  1. Berpegang pada urutan prinsip : Iman, Akhlak/Adab, Ilmu, dan Amal
    Amal tidak akan bisa diterima tanpa ilmu
    Ilmu akan menjadi jelek tanpa adab/akhlak
    Adab/akhlak, ilmu, dana mal akan menjadi sia-sia tanpa iman
  2. Colaboration family
  3. Menerapkan Home Based Education dan Fitrah Based Education
Baik, setelah selesai menjawab 6W1H nya, telah sampailah desain pembelajaran untuk membangun masa depan, check it out!

Desain pembelajaran ini tujuan utamanya adalah “Keluarga Kuat dan Dirindu Surga”. Oiya, desain yang aku buat aku adopsi dari Addie Model ya, berikut poin-poinya:

Analysis (hal yang dibutuhkan) adalah ilmu parenting dan nutrition

Desain (terkait kompetensi, metode, dan sumber)

Development (pengembangan dari ilmu yang dipelajari)

Implementation (aplikasi penerapan terutama dalam keluarga)

Evaluation (merupakan tahap untuk mengevaluasi dengan tujuan untuk memperbaiki tahapan-tahapan sebelumnya)

Sekian rancangan desain pembelajaranku, mungkin belum sempurna tetapi aku akan terus belajar dan desain ini akan selalu berkembang dan diperbaiki seiring dengan bertambahnya pemahaman dan pengetahuan baru.

Baik, terimakasih sudah berkunjung dan membaca My Nice Homework –ku, semoga bermanfaat,oiya dapat senyuman manis nih dariku 😊.

- Salam Hangat, Annisa Putri Aryati (Mahasiswi MIIP B7 – Regional Surabaya Raya)

#TugasNHW5 #MatrikulasiIIPB7

Source edit picture by canva


Kamis, 21 Februari 2019

NHW#4 Kelas Matrikulasi IIP B-7: MENDIDIK DENGAN KEKUATAN FITRAH

Bismillahirachmannirrochim... πŸ˜ŠπŸ’•

Apakabar readers?😍 Semoga para readers baik-baik ya (Aamiin) . Oke,jumpa lagi nih dengan Nice Home Work. Hmm… NHW ke 4 kali ini, bisa kusebut sebagai NHW “Perenungan dan Muhasabah”, kenapa? Karena, eh karena, NHW kali ini para bunda-bunda dan calon bunda mahasiswi kelas matrikulasi IIP B-7 diwajibkan menilik kembali NHW-NHW sebelumya, apakah tetap sama atau ada yang diubah hingga detik ini dan apakah sudah diaplikasikan dengan sempurna atau belum. Nah, tanpa berlama-lama dalam kata pengantar (kaya’ nulis buku aja), yuk kita tilik langsung konten utama NHW#4 nya. Check it out!


Bunda dan calon bunda peserta matrikulasi IIP, masih semangat belajar?
Kali ini kita akan masuk tahap #4 dari proses belajar kita. Setelah bunda berdiskusi seru seputar mendidik anak dengan kekuatan fitrah , maka sekarang kita akan mulai mempraktekkan ilmu tersebut satu persatu.

a. Mari kita lihat kembali Nice Homework #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?

Jawaban:
Ya, saya tetap memilih jurusan ilmu Parenting. Sebagai seorang perempuan yang nantinya akan menjadi calon istri dan calon ibu profesional, belajar ilmu parenting amatlah sangat penting, karena dengan ilmu tersebut seorang ibu akan dengan mudah mengemban amanahnya sebagai madrasah pertama anak-anaknya. Selain itu, saat ini banyak orang tua, calon orang tua, dan para pemuda-pemudi yang ingin menikah kurang pengetahuan tentang parenting, dibuktikan dengan data statistik “Parent Productive” 62% para pemudi-pemuda yang ingin menikah membekali ilmu pra-nikah tetapi hanya 21,6% yang membekali diri dengan ilmu parenting.. Oleh sebab itu, selain alasan ingin menjadi sosok Ibu Profesional saya memiliki impian menjadi public speaker di bidang parenting terutama untuk pemuda-pemudi yang akan menikah. Aamiin.


b. Mari kita lihat Nice Homework #2, sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita. 


Jawaban:
Untuk checklist indikator sebagai individu profesional Alhamdullillah 95% sudah terisi setiap hari, tetapi untuk checklist indikator sebagai istri dan ibu profesional belum terlaksana karena belum diamanahi Allah SWT menjadi istri dan ibu (mohon doanya ya bunda-bunda, semoga tahun ini bisa mengemban amanah tersebut, Aamiin). Tetapi, sebagai latihan untuk merealisasikan untuk mengisi ­checklist tersebut saya merealisasikannya dengan memanfaatkan masa bakti saya kepada orang tua dan adik, sebelum nantinya akan berpindah kepada suami. Meskipun tidak semua checklist dalam indikator sebagai istri dan ibu profesional tidak semua bisa diaplikasikan kepada orang tua dan adik saya, tapi saya berusaha melaksanakan kegiatan yang hampir sama yang ada di dalam checklist indikator sebagai istri dan ibu profesional, beberapa diantaranya:
  1. Saling mengingatkan ayah, ibu, dan adik untuk sholat 5 waktu tepat waktu
  2. Melakukan tugas domestik rumah tangga, karena ayah dan ibu sama-sama bekerja
  3. Memasak makanan untuk ayah, ibu, dan adik
  4. Menyiapkan bekal untuk bapak saat akan berangkat bekerja
  5. Menyiapkan minuman hangat untuk ayah, ibu, dan adik saat akan berangkat bekerja atau sedang santai
  6. Mengajari adik belajar dan saat mengerjakan PR
  7. Mengajak adik untuk mengikuti kajian setiap sabtu sore
  8. Mengajak adik untuk jogging sore di lapangan koni minimal 1x/minggu
  9. Mengajak ayah, ibu, dan adik untuk melakukan ­family time setiap akhir pekan
  10. Saling memotivasi ayah, ibu, dan adik dalam kebaikan 

c.Baca dan renungkan kembali Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.

Jawaban:
Sejak lulus kuliah, saya baru benar-benar mencari tahu apa alasan Allah SWT menciptakan saya di dunia ini dan semakin terbuka pikiran saya semenjak mengikuti Kelas Matrikulasi IIP B-7 ini. Untuk saat ini, saya ingin fokus belajar tentang ilmu parenting, karena nantinya saat sudah berkeluarga tugas ini harus tuntas dahulu sebelum berajak keluar untuk menebarkan manfaat kepada masyarakat. Meskipun memang saya juga telah diamanahi oleh Allah SWT menjadi seorang Ahli Gizi yang berguna untuk masyarakat, tetapi saya ingin menuntaskan dahulu ilmu tentang parenting ini dan tidak melupakan ilmu gizi yang telah saya dapatkan dengan cara mereview ulang ilmu gizi minimal 3x/minggu  serta bekerja freelance sebagai konselor dan edukator gizi. Baik, yuk intip misi, bidang, dan peran spesifik saya, check it out!

Misi hidup:
Membangun keluarga yang kuat (agama, akidah, akhlak, ilmu, kasih sayang, dan kemampuan bakat) dari dalam rumah, menjadi keluarga yang siap menebar kebaikan  dan manfaat dalam masyarakat, dan keluarga yang dirindu Allah SWT dan SurgaNya.”

Bidang yang akan dikuasai:
1.    Ilmu Parenting
Tujuan: untuk menjadi seorang ibu serta istri profesional sebagai arsitek peradaban anak-anak untuk mencapai akil baligh dan matang dalam segala fitrah pada usia 15 tahun dan menjadi manusia yang dibanggakan Allah SWT.
2.    Ilmu Gizi
Tujuan: untuk mengamalkan ilmu yang telah diamanahkan Allah SWT dan menebarkan manfaat terkait tentang mewujudkan masyarakat yang sehat dengan mengonsumsi makanan yang tepat, sehat, dan bergizi

Peran:
1.    Menjadi seorang istri profesional untuk saling bersinergi dengan suami mewujudkan keluarga yang kuat dari rumah
2.    Menjadi seorang ibu profesional kebanggaan keluarga
3.    Menjadi seorang Ahli Gizi profesional terutama dalam bidang edukasi gizi masyarakat

d. Setelah menemukan 3 hal tersebut, susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut. 


Jawaban:
Ilmu-ilmu yang dibutuhkan untuk menjalankan misi tersebut terbagi menjadi 2 poin besar yakni komponen ilmu parenting dan komponen ilmu gizi

d.1. Komponen ilmu parenting
Usaha saya untuk mendapatkan ilmu parenting antara lain saya ingin bersungguh-sungguh mengikuti IIP dengan profesional serta ingin benar-benar menyelesaikan tahapan IIP hingga akhir, mengikuti seminar-seminar parenting, dan membaca buku-buku terkait parenting. Terkait tahapan-tahapan, sama dengan indikator keberhasilan kurikulum IIP, yakni:
  1. Bunda Sayang : Ilmu-ilmu seputar pengasuhan anak berbasis fitrah dan mempelajari pengasuhan nabawiyah
  2. Bunda Cekatan : Ilmu-ilmu seputar manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga 
  3. Bunda Produktif : Ilmu-ilmu seputar minat dan bakat dan kemandirian finansial
  4. Bunda Shaleha : Ilmu tentang berbagi manfaat kepada banyak orang ini nanti akan dikaitkan dengan komponen ilmu berikutnya, yaitu Ilmu Gizi.  
  5. Ilmu public speaker untuk mewujudkan impian menjadi public speaker parenting untuk para pemuda-pemudi yang akan menikah

d.2. Ilmu Gizi
  1.  Ilmu Gizi untuk 0-17 tahun
  2. Ilmu Gizi untuk usia dewasa (18-60 tahun)
  3. Ilmu Gizi untuk lansia (61< tahun)
  4. Ilmu public speaker untuk mewujudkan impian menjadi educator gizi yang profesional

e. Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup

Jawaban:
Baik, saya saat ini berusia 22 tahun berjalan 23 tahun, Bismillah, InsyaAllah saya akan berkomitmen dalam waktu 5 tahun dari KM 0 22 tahun 10 bulan ini selanjutnya saya akan mewujudkan misi hidup saya dengan cara bersungguh-sungguh mengikuti tahap demi tahap kelas IIP, membeli buku terkait parenting, dan tetap me­review ulang tentang ilmu gizi dan mencari tahu informasi baru terkait ilmu gizi. Baik, milestnone yang saya tetapkan yaitu:

  • KM 0 – KM 1 ( tahun 1 ) : Menguasai dan mengamalkan Ilmu seputar Bunda Sayang dan mempeajari terkait ilmu gizi anak 0-17 tahun
  • KM 1 – KM 2 (tahun 2 ) : Menguasai dan mengamalkan Ilmu seputar Bunda Cekatan dan mempeajari terkait ilmu gizi usia dewasa 18-60 tahun
  • KM 2 – KM 3 (tahun 3 ) : Menguasai dan mengamalkan Ilmu seputar Bunda Produktif dan mempeajari terkait ilmu gizi anak >60 tahun
  • KM 3 – KM 4 (tahun 4) : Menguasai dan mengamalkan Ilmu seputar Bunda shaleha dan mempelajari ilmu public speaker dan perlahan terjun kepada masyarakat 
  • KM 4 – KM 5 (tahun 5) : Menjadi public speaker dalam bidang parenting dan educator dalam bidang gizi masyarakat.


f. Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.

Jawaban:

Untuk checklist indikator individu, istri, dan ibu sudah, tetapi terkait untuk peran di masyarakat akan ditambahkan poin serta waktunya.

g. Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan

Jawaban:
Bismillah,
laa hawla wa laa quwwata illa billah. Fighting!!! 


- Salam Hangat, Annisa Putri Aryati (Mahasiswi MIIP B7 – Regional Surabaya Raya)

#TugasNHW4 #MatrikulasiIIPB7

Bunsay 6 : Pantulan Warna Zona 6-7-8