Jumat, 15 Februari 2019

NHW #3 Kelas Matrikulasi IIP B-7 : Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Bismillahirachmannirrochim... ðŸ˜ŠðŸ’•

Apakabar readers dan teman” sejawat perjuangan kelas Matrikulasi IIP? J Semoga Allah SWT selalu mengampuni kita, menuntun jalan kita untuk istiqomah dalam jalan lurusNya, dan melindungi kita dari segala kedzaliman dunia dan seisinya, Aamiin.

Nggak kerasa nih Sudah NHW lagi, menyiapkan pikira untuk memahami dan berfikir dan menyiapkan jari jemari untuk siap berkutat di tut.tuts laptop…
Hmm… NHW#3 kali ini tentang apa ya? Dag dig dug nih, yuk segera intip tugas NHW#3 nya langsung aja ya nih… Check it out!

NHW#3
*MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH*


a. Bagi anda yang sedang memantaskan diri untuk mendapatkan jodoh yang baik, tulislah suara hati anda dengan tema “UNTUKMU CALON IMAMKU”
c. Lihatlah orangtua dan keluarga anda. Silakan belajar membaca kehendakNya, mengapa anda dilahirkan di tengah-tengah keluarga anda saat ini dengan bekal/senjata potensi diri anda. Misi rahasia hidup apa yang DIA titipkan ke diri kita. Tulis apa yang anda rasakan selama ini.
*Nikah*
a. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki "alasan kuat" bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda.Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.
c. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, memgapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki.
*Orangtua Tunggal (Single Parent)*
a. Buatlah “Tanda Penghormatan’, dengan satu dua kalimat tentang sisi baik “ayah dari anak-anak kita” sehingga dia layak dipilih Allah menjadi ayah bagi anak kita, meskipun saat ini kita tidak lagi bersamanya.
c. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak anda, silakan baca kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan dengan tantangan keluarga yang luar biasa seperti ini. Apa misi hidup rahasiaNya sehingga kita diberi ujian tetapi diberikan bekal kekuatan potensi yg kita miliki.
Setelah menjawab pertanyaan - pertanyaan tersebut di atas, sekarang belajarlah memahami apa sebenarnya "peran spesifik keluarga" anda di muka bumi ini.

Salam Ibu Profesional,

Waah… Istimewa, begitu guys tugasnya. Alhamdullillah tugas kali ini dibagi menurut statusnya yaitu PraNikah (tunjuk diri), Nikah, dan single parent. Oke, tanpa berlama-lama yuk segera duduk manis, menyiapkan diri untuk memahami dan berfikir, dan menyiapkan jari jemari yang siap menjelajahi tut.tuts My Lepi.

Untukmu Calon Imamku
Bismillahirachmannirrochim... ðŸ˜ŠðŸ’•

Salam untukmu, seseorang yang sejak lama kunanti dalam taat sejak saat aku tahu bahwa untuk merayakan sebuah cinta yang satu-satunya di Ridhai oleh Allah SWT adalah akad pernikahan, tepatnya akad antara kamu dan bapak.

Sebuah takdir aku imani tentang kehadiran seseorang lelaki yang menuntut sesuatu yang kujaga rapi selama ini semata-mata buatmu, itulah hati dan cintaku, membuatku tersadar dari lenaku yang panjang. Allah SWT telah menjaga, mendidik, dan membimbingku dalam masa penantian untuk siap menjadi seorang istri dan ibu yang sholihah dan profesional untukmu serta anak kita nanti. Kata Allah SWT, tanggung jawab ibu bapak terhadap anak perempuan ialah menjaga dan mendidiknya sehingga seorang lelaki mengambil-alih tanggungjawab itu dari mereka.

Dalam perjalanan menanti tidak kunafikan sebagai seorang remaja, aku seperti remaja lainnya memiliki perasaan untuk menyayangi dan disayangi. Namun setiap kali perasaan itu datang, setiap kali itulah aku kembali pada Allah SWT dan mengingatkan diriku bahwa aku perlu menjaga perasaan itu karena dengan Ridha Allah SWT ia semata-mata untukmu. Allah SWT telah menakdirkan dan memuliakan seorang lelaki yang akan menjadi suamiku untuk menerima hati, perasaanku yang suci, dan pengabdianku yang tertunda. Bukan hati yang menjadi labuhan lelaki lain. Engkau berhak mendapat kasih yang suci dan sejati.

Aku hanyalah seorang gadis biasa yang selalu berjuang dan belajar untuk memperbaiki diri dengan ikhtiar menghadiri majlis ilmu, bersama-sama dengan teman dan sahabat yang sholihah, dan berkumpul dengan komunitas-komunitas yang dapat meningkatkan keimanan dan keprofesionalan diri untuk mempersiapkan menjadi istri dan ibu yang sholihah dan profesional. Ya, aku ingin terus belajar, bahkan saat nanti bersamamu aku ingin terus belajar memperbaiki diri dan harapanku semoga kita berjalan beriringan untuk sama-sama memperbaiki diri.

Kamu tahu, aku suka sekali membaca, baik itu membaca tulisan di buku, website, ataupun sosial media terutama tentang hal-hal spiritual, pengembangan diri, dan motivasi selanjutnya setelah aku membaca dan aku mendapatkan pengetahuan dan pemahaman yang baru yang sekiranya baik untuk dibagikan dengan senang hati aku selalu menuliskannya kembali baik dalam blog/tumblr/sosial media (FB dan IG) supaya mereka di luar sana bisa mendapatkan pengetahuan dan pemahaman yang baru aku dapatkan.

Selain membaca, aku juga suka mengedukasi, mengajar, mendidik, dan membimbing, karena saat melakukan itu semua ada kepuasan tersendiri yang timbul dari dalam diri, yah mungkin itu “passion”ku, meskipun aku berasal dari dunia kesehatan potensi itu tetap lahir, seperti (maaf jadi cerita) saat dulu  aku menjalani PKL di sebuah rumah sakit umum di Kota Apel aku mendapatkan beberapa orang pasien sepuh serta ibu-ibu sdan tugasku disana salah satunya adalah mengedukasi dan membimbing beliau-beliau supaya dapat mengatur pola makannya untuk menunjang kesembuhannya. Senang sekali, beliau-beliau menerimanya dengan tersenyum dan semangat berjuang untuk segera sehat. Suatu hari, sungguh sebuah kehormatan tersendiri bagiku beberapa dari beliau rindu ingin bertemu denganku saat aku berpindah ke rotasi lain. Dari beliau-beliau justru aku mendapatkan sebuah pelajaran tentang arti bersyukur, bersabar, dan selalu berjuang (menuliskan ini membuatku rindu pada beliau-beliau, semoga Allah SWT selalui memberi lindungan untuk beliau-beliau, Aamiin :’)). 

Aku lahir dan tumbuh dari keluarga sederhana. Saat kecil dahulu bapak selalu mengingatkan keluarganya untuk sholat, taat agama, dan mengaji, tetapi sedihnya saat itu ibu belum mendapatkan hidayah untuk menutup aurat. Seiring berjalannya waktu, pelan-pelan aku selalu berdoa dan mengajak ibu dan adik perempuanku untuk menutup aurat (berjilbab). Alhamdullillah, adik saat masuk SMP memutuskan untuk berhijab dan ibu masih belum. Tanpa lelah, aku berusaha mendoakan dan mengingatkan lagi karena cita-citaku kami sekelarga juga kamu dan keluarga kecil kita nanti bisa masuk surga bersama-sama, akhirnya sejak aku berada di masa-masa akhir SMA, Alhamdullillah dengan rahmat Allah SWT akhirnya ibuku pelan-pelan mau berhijab, hingga saat ini berhijab syar’I dan sekarang sering mendengarkan pengajian pagi di TV. Semua ini terjadi karena KehendakNya dan aku tetap selalu berusaha bersyukur atas apapun yang Allah SWT berikan.

Aku memiliki sahabat-sabahat sejak dari SMP dan juga ada yang baru bertemu saat kuliah, bermacam-macam sekali sahabat-sahabatku, Alhamdullillah Allah SWT selalu menempatkanku berada di lingkungan yang baik dan masih terjaga. Sekali lagi Allah SWT, sedang menggerakkan hatiku untuk mengingatkan, yah, aku memang aku baru mulai berhijab saat SMA dan beberapa dari sahabatku masih belum berhijab. Sebuah tantangan lagi dari Allah SWT. Sama seperti yang kulakukan untuk ibu dan adikku, aku mendoakan mereka dan pelan-pelan mengajak mereka menjalankan perintahNya untuk berhijab, karena tidak hanya keluarga aku juga punya impian semoga aku bisa bertemu semua sahabat-sahabatku di SurgaNya. Saat memasuki kuliah, Alhamdullillah satu per satu sahabat-sahabatku dengan rahmat Allah SWT akhirnya berhijab. Aku bersyukur dan senang sekali menjadi salah satu perantara Allah SWT untuk mengingatkan mereka.

Oh iya, aku belum cerita ya profesiku apa. Ya, aku memang tenaga kesehatan tepatnya seorang Ahli Gizi, dengan amanah gelar baruku aku ingin menebar manfaat untuk masyarakat dalam menunjang kesehatan terutama dalam bidang gizi. Sejak pertama lulus, aku mendapatkan kesempatan bergabung dalam tim penelitian yang bertugas sebagai konselor gizi. Target pasiennya hampir sama dengan saat aku PKL yaitu ibu-ibu sepuh. Tugasku dalam penelitian itu yaitu mengedukasi dan membimbing bagaimana cara memasak yang benar untuk menunjang kesembuhan dari penyakitnya. Alhamdullillah, para target pasien yang menjadi tanggung jawabku sangat senang sekali mendapat ilmu baru dan bersemangat untuk sembuh dari penyakit beliau. Kepuasan tersendiri itu tumbuh lagi.

Calon suamiku, diriku memiliki sebuah impian, impian membangun sebuah keluarga yang kuat dan kokoh dari dalam rumah, kuat dan kokoh : Iman, Takwa, Kasih sayang, Ilmu, bakat, dan kemampuan sehingga ketika kita semua (aku, kamu, dan anak-anak kita nanti) keluar dari rumah mampu menghadapi segala hal diluar rumah kita dan bisa menebarkan manfaat serta berdakwah bersama-sama menurut potensi yang kita miliki masing-masing meneruskan perjuangan Rasullullah SAW dan semoga kita adalah salah satu keluarga yang dirindukan Rasullullah SAW untuk bersama-sama bergandengan menuju ke Surganya dan bertemu denganNya, Allah SWT Sang Maha Cinta, yang menyatukan kita. Salam dariku, Calon Istrimu.


- Salam Hangat, Annisa Putri Aryati (Mahasiswi MIIP B7 – Regional Surabaya Raya)

#TugasNHW3 #MatrikulasiIIPB7



Kamis, 07 Februari 2019

NHW #2 Kelas Matrikulasi IIP B-7 : Menjadi ibu Profesional Kebanggaan Keluarga

Bismillahirachmannirrochim... ðŸ˜ŠðŸ’•

Waktu terus bergulir, semakin bersyukur dan sayang dengan komunitas ini. Membuatku banyak belajar bagaimana menjadi individu, istri, dan seorang ibu yang profesional dalam mengemban amanah menjadi individu, istri, dan ibu.

Tibalah saatnya berkutat dengan tut.tuts laptop mengerjakan Nice HomeWork #2 ini. Hmm… Nice HomeWork #2 kali ini sedikit membuatku berpikir keras dibandingkan NHW sebelumnya, karena mengapa? Karena NHW kali ini para bunda dan calon bunda kelas matrikulasi ini diberi tugas untuk membuat indikator apa saja yang ingin dicapai saat menjadi

1. Individu profesional
2. Istri profesional
3. Ibu profesional


Untuk poin 1 mungkin masih bisa dibilang mudah, tapiiii….. indikator 2 & 3 cukup berat bunda… karena poin 2 & 3 disarankan menanyakan langsung kepada suami dan anak, sedangkan diri ini masih seorang “single fii sabilillah”. (Tenang wahai hati masih ada Allah SWT yang menguatkan diri) It’s oke, no problem, ini adalah tantangan, sekiranya bisa buat gambaran nanti kalau sudah diberikan amanah menjadi istri dan ibu (Aamiin Ya Rabb, dari suara hati terdalam) kelak.
Baik-baik, tidak usah berlama-lama, mari kita intip sekilas bagaimana menjadi Ibu Profesional kebanggan keluarga beserta petunjuk tugas NHW#2 nya… Check it out! 

MENJADI IBU PROFESIONAL, KEBANGGAAN KELUARGA
Apa itu Ibu Profesional?
Mari kita mulai dengan kata ibu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ibu memiliki makna:
1. Perempuan yang telah melahirkan seseorang
2. Sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami
3. Panggilan yang takzim kepada perempuan, baik yang sudah bersuami maupun yang belum
4. Bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya), misal: ibu jari
5. Yang utama diantara yang lain, atau yang terpenting, misal: ibu negeri, ibu kota.
Sedangkan kata profesional memiliki makna:
1. Bersangkutan dengan profesi
2. Memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya, misal: juru masak profesional.
Berdasarkan dua makna tersebut, maka Ibu Profesional adalah seorang perempuan yang:
a. Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya
b. Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh-sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.
Apa itu Komunitas Ibu Profesional?
Komunitas ibu profesional adalah sebuah forum belajar bagi para perempuan yang senantiasa ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang ibu, istri, dan sebagai individu.
MISI Komunitas Ibu Profesional

1.    Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya.
2.    Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.
3.    Meningkatkan rasa percaya diri ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini, sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya.
4.    Meningkatkan peran ibu menjadi Agent of Change (agen pembawa perubahan), sehingga keberadaannya membawa perubahan bagi banyak orang.

VISI Komunitas Ibu Profesional

Menjadi komunitas pendidikan perempuan Indonesia yang unggul dan profesionalsehingga bisa berkontribusi kepada Allah dan negara ini dengan cara membangun peradaban bangsa dimulai dari internal keluarga.

Bagaimana tahapan-tahapan menjadi seorang Ibu Profesional?
Ada 4 tahapan yang harus dilalui oleh seorang Ibu Profesional, yaitu:

a. Bunda Sayang (Bunsay)
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya.


b. Bunda Cekatan (Buncek)
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya, sehingga dapat menjadi keluarga yang unggul.


c. Bunda Produktif (Bunpro)
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini, sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya.


d. Bunda Sholihah (Bunshol)
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.
Apa indikator keberhasilan seorang Ibu Profesional?

“MENJADI KEBANGGAAN KELUARGA”
Kalimat di atas adalah satu indikator utama keberhasilan seorang Ibu Profesional, karena anak-anak dan suami kita lah yang paling berhak pertama kali mendapatkan ibu dan istri TERBAIK untuk mereka.
Maka yang perlu ditanyakan adalah sebagai berikut:

Bunda Sayang
a. Apakah anak-anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya?
b. Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istrinya mendidik anak-anak, sehingga keinginannya terlibat dalam pendidikan anak semakin tinggia?
c. Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari selama satu tahun ini?
d. Berapa ilmu yang sudah kita praktikkan bersama anak-anak?
Bunda Cekatan
a. Apakah manajamene pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik?
b. Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai “kasir keluarga”, sekarang menjadi “manajer keuangan keluarga”. Dulu sebagai “juru masak keluarga”, sekarang jad “manajer gizi keluarga”.
c. Berapa ilmu tentang manajemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini?
d. Berapa ilmu yang sudah kita praktikkan dalam mengelola rumah tangga?


Bunda Produktif
a. Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita?
b. Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita tersebut?
c. Apakah kita merasa menikmati, mudah, dan menjadi yang terbaik (3E: Enjoy-Easy-Excellent) di ranah minat dan bakat kita ini?
d. Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?


Bunda Sholihah
a. Nilai-nilai apa saja yang kita perjuangkan dalam hidup ini?
b. Apa yang ingin kita wariskan di muka bumi ini, yang tidak akan pernah mati ketika kita tiada?
c. Program berbagi apa yang akan kita jalankan secara terus menerus?
d. Apakah kita merasa bahagia dengan program tersebut?
Selamat berproses menjadi Ibu Profesional, dan nikmatilah tahapan-tahapan belajar yang kita rasakan selama mengikuti program pendidikan di kelas Matrikulasi Ibu Profesional ini dengan segenap kesungguhan.
Seperti pesan Pak Dodik kepada Ibu Septi untuk meyakinkan beliau tentang pentingnya kesungguhan menjadi seorang ibu, yaitu: “Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu. Tidak ada hukum terbalik.”


Salam Ibu Profesional
Tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional
Sumber:
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi keempat, Balai Pustaka, Jakarta, 2008.
Hei, Ini Aku Ibu Profesional, Leutikaprio, cetakan 1, 2012.
Bunda Sayang, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2013.
Bunda Cekatan, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2014.
Bunda Produktif, Catatan Ikhtiar Menjemput Rizki, Seri Ibu Profesional, J&J Publishing, cetakan 1, 2015.


Nice HomeWork #2
Setelah memahami tahap awal menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga, langkah selanjutnya yang harus kita lakukan adalah membuat: “CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN”
a. Sebagai indvidu
b. Sebagai istri
c. Sebagai ibu
Rules-nya adalah buat indikator yang kita sendiri bisa menjalankannya.
Untuk yang sudah berkeluarga, tanyakan kepada suami, indikator istri semacam apa sebenarnya yang bisa membuat dirinya bahagia. Jika sudah dikaruniai buah hati, tanyakan juga kepada mereka, indikator ibu semacam apa yang sebenarnya bisa membuat mereka bahagia. Lalu jadikan jawaban mereka sebagai referensi pembuatan checklist kita.
Kunci dari membuat indikator tersebut kita singkat menjadi SMART, yaitu:
– SPESIFIC (unik atau detail)
– MEASURABLE (terukur, mis: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
– ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu sulit tapi juga tidak terlalu mudah)
– REALISTIC (berhubungan dengan kondisi sehari-hari, membumi, tidak ngawang-ngawang)
– TIMEBOND (memiliki batasan waktu yang jelas kapan dimulai, dicapai, dalam rentang waktu sekian)
Setelah berfikir panjang, akhirnya selesai juga memikirkan target indikator keberhasilan menjadi individu, istri, dan ibu yang profesional kebanggaan keluarga. Ini dia… J

1.  Indikator sebagai Individu Profesional




Timebond setiap saat selama menjalani amanah kehidupan yang diberikan olehNya dan semoga bisa semakin berkembang baik target indikatornya (Aamiin :) )

2.    Indikator sebagai Istri Profesional








Timebond setiap saat selama menjadi seorang istri hingga di dunia dan bertemu kembali ke SurgaNya.  

3.   
Indikator sebagai Ibu Profesional






Timebond setiap saat selama menjadi ibu sesuai perkembangan fase anak hingga akil baligh. 
- Salam Hangat, Annisa Putri Aryati (Mahasiswi MIIP B7 – Regional Surabaya Raya)

#TugasNHW2 #MatrikulasiIIPB7



Source picture : Canva

Jumat, 01 Februari 2019

NHW#1 Kelas Matrikulasi IIP B-7 : Minat Jurusan di Universitas Kehidupan

Bismillahirachmannirrochim... 😊💕
Akhirnya berjumpa lagi dengan Nice Home Work 1 kelas Matrikulasi IIP. Setelah hampir mengikuti kelas selama kurang lebih 1 bulan saya merasakan energi positif para bunda-bunda senior yang menginspirasi dan memotivasi saya yang masih single untuk mempersiapkan diri menjadi ibu yang profesional. 

Oke, to the point. Tugas NHW#1 ini bertema tentang pilihan minat jurusan yang ingin dipelajari di Universitas Kehidupan. Berikut poin-poin pertanyaannya sekaligus beserta jawabannya: 

1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini?
Sebagai seorang pembelajar dengan rasa ingin tahu yang tinggi, sebenarnya banyak ilmu yang ingin saya pelajari di Universitas Kehidupan ini. Namun dari pertanyaan diatas, mengharuskan saya untuk fokus pada satu bidang yang nantinya akan ditekuni, jujur ini tidak mudah bunda...
Setelah melalui proses perenungan panjang sejak dikeluarkannya tugas NHW#1, dengan segala perjuangan berfikir dan menggunakan metode ikigai akhirnya saya menemukannya...

Eng ing eng...

Jurusan yang saya ingin tekuni di Universitas Kehidupan ini adalah Ilmu Parenting. 

2. Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut?
Tujuan diciptakan kita (manusia) di bumi adalah untuk beribadah kepada Allah SWT dan menjadi pemimpin / khalifah di bumi, eiits... kita luruskan dulu khalifah bukan berarti hanya seorang raja atau presiden saja, yakni memimpin diri sendiri juga bisa disebut khalifah. 

Sungguh besar rasa syukur  kita (para bunda) diciptakan oleh Allah SWT menjadi seorang perempuan, sebagai aplikasi rasa syukur kita harus memahami tugas kita sebagai perempuan jika dikaitkan dengan tujuan penciptaan manusia. Kita tahu, sebagai seorang perempuan yang nantinya akan menjadi seorang ibu ada amanah besar dari-Nya yang harus kita jaga yakni seorang anak. Sebagai seorang calon ibu, banyak ilmu yang harus dipersiapkan terutama ilmu parenting, karena mengapa? 

"Al-Ummu madrasatul ula'iza a'dadtaha a'dadta sya'ban thayibal a'raq"
Artinya: Ibu adalah madrasah utama, jika engkau mempersiapkan, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik. 

Ibu adalah khalifah rumah tangga dan anak adalah salah satu tanggung jawabnya. "Persiapan" itu tidak lain adalah Ilmu Parenting (pengasuhan). Namun, sebagian besar masalah generasi saat ini adalah terkait pengasuhan yang salah, maka benar kata bunda Elly Risman 

"Nak, pastikan kamu kelak menikah dengan ilmu, ya. Jangan asal jatuh cinta. Lihat negara kita banyak masalah dan sebagian besar  bermula dari pengasuhan yang salah."

Pernyataan tersebut, juga didukung data dari statistik "Parent Productive" menggambarkan bahwa 62% anak muda mempelajari ilmu pra nikah tetapi hanya 21,6% saja yang mempelajari ilmu parenting (pengasuhan). Oleh karena itu, dalam masa single ini saya ingin mempersiapkan ilmu sebanyak-banyaknya terutama terkait tentang ilmu parenting dan menjadi promotor anak muda yang masih single untuk belajar tentang ilmu parenting. Aamiin. 

Hal tersebut, yang menjadi alasan saya mengapa saya memilih bidang ilmu parenting untuk menjadi fokus bidang yang ingin ditekuni. Saya ingin mewujudkan generasi terbaik yang BEST (Behave-Empathy-Smart-Tough) bukan generasi BLAST (Bored-Lonely-Afraid/Angry-Stress-Tired). Selain itu, tahukan bunda doa anak untuk orang tua? 

Arti sesungguhnya adalah "Sayangilah orang tuaku sebagaimana mereka mendidikku sedari kecil", sehingga kualitas mendidik dan mengasuh anak akan menentukan berapa nilai pahala kita dariNya. Jika kualitasnya memiliki nilai 8 maka yang dimintakan anak adalah nilai 8.

Menjadi seorang sarjana saja harus ditempuh dengan beban 141 sks dan sidang akhirnya di depan dosen pembimbing dan penguji. Apalagi menjadi seorang ibu yang memiliki beban mungkin berjuta-juta sks, ujian hariannya bisa setiap hari, dan sidang akhirnya di hadapan Allah SWT. 

Bekali ilmu dengan niat karena Allah SWT dan siap menjadi ibu terbaik untuk generasi peradaban terbaik. 

3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?
  1. Niat menuntut ilmu karena Allah SWT
  2. Berusaha menyelesaikan dan mengokohkan konsep diri
  3. Melaksanakan adab menuntut ilmu
  4. Mengikuti seminar parenting
  5. Mengikuti sekolah parenting salah satunya di Institute Ibu Profesional
  6. Membaca dan mengoleksi buku terkait parenting
  7. Berdoa semoga Allah SWT menguatkan dan memudahkan saya untuk mengaplikasikan ilmu yang telah saya dapatkan

4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu,perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut?
  1. Berusaha menghilangkan sikap "Aku sudah tahu itu", karena ini merupakan penyakit para pembelajar sehingga ilmunya tidak bisa berkah dan bertumbuh.
  2. Berusaha tidak subjektif tetapi berusaha objektif dalam menerima ilmu dari seorang guru/fasilitator  
  3. Berusaha open minded
  4. Konsisten dan Komitmen
  5. Siap mengamalkan ilmu, contohnya lewat tulisan

-SEKIAN-

- Salam Hangat, Annisa Putri Aryati (Mahasiswi MIIP B7 - Regional Surabaya Raya)

#TugasNHW1 #MatrikulasiIIPB7


Jumat, 25 Januari 2019

Tugas PraNHW#1 MIIP B7

Saya Annisa Putri Aryati seorang single yang haus ilmu untuk memantaskan diri bercita-cita menjadi calon istri dan calon ibu yang sholihah dan profesional. Aliran rasa yang saya dapatkan setelah mengikuti Studium Generale MIIPB 7 “MasyaAllah Tabarakallah”, pertama saya sangat bersyukur Allah SWT telah memberi keyakinan pada saya untuk memutuskan bergabung dalam Institute Ibu Profesional.

Dua kata pertama yang terpatri dalam benak saya untuk mengemban amanah menjadi (calon) ibu profesional adalah “Komitmen dan Konsisten” untuk memahami konsep diri sebagai seorang perempuan, istri, dan ibu yang disampaikan oleh Ibunda Septi Peni Wulandari. Meskipun hanya dua kata itu, keduanya sangat berat diemban jika tanpa diiringi target tujuan akhir kita yakni niat beribadah kepada Allah SWT, seberat apapun segala hal jika diniatkan karena Allah SWT, olehNya akan dikuatkan dan dipermudah jalannya. Dampaknya pun amat besar jika bisa melaksanakan menjadi ibu profesional yang komitmen dan konsisten akan membangun peradaban umat yang terbaik.

Selain, komitmen dan konsisten sebelumnya kita harus paham pentingnya belajar mengenal diri sendiri sesuai dengan sabda Rasulullah SAW :
“MAN ARAFA NAFSAHU FAQAD AROFA ROBBAHU” (artinya: “Barang siapa mengenal akan dirinya,niscaya mengenal akan Tuhannya“).
Dengan mengenal diri kita akan tahu darimana asal kita, bagaimana keagungan proses penciptaan kita, hingga kelebihan dan kelemahan kita. Mengetahui kelebihan membuat kita tahu apa potensi diri kita untuk bisa bermanfaat terutama untuk berdakwah .

*dakwah adalah proses mengingatkan kepada Allah SWT dan mengajak mengenal Allah SWT (dikutip dari Buku Saatnya Ibu Menjadi Ibu, Febrianti Almeera)

Sedangkan mengetahui kelemahan kita membuat kita sadar bahwa kelemahan itu memanusiakan manusia, membuat kita sadar bahwa di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Justru manusia sempurna karena memiliki kelemahan. Namun, tidak serta merta kita mendiamkan kelemahan kita, dari kita tahu kelemahan tersebut membuat kita harus berupaya lagi untuk memperbaiki (terutama jika kelemahan ini berhubungan tentang akidah-akhlak). Ujung dari mengenal diri adalah kita menyadari bahwa ada Dzat yang Maha Agung yang menciptakan kita- Allah SWT.

Aliran rasa yang saya dapatkan adalah tentang “Tantangan”. Sebagian besar orang mungkin takut dalam mengambil sebuah tantangan padahal dengan mengambil sebuah tantangan itulah yang akan menempa dan meningkatkan potensi diri kita. Dari tantangan membuat kita terus berupaya maksimal untuk melakukan yang terbaik dan percaya bahwa ada harapan besar yang menanti. Harapan besar itu ada karena adanya keyakinan kita bahwa ada Dzat Maha Besar yang akan mengabulkan harapan kita tersebut.

Semoga dengan langkah awal memutuskan mengikuti Institute Ibu Profesional menjadikan itu sebagai tantangan untuk meraih harapan besar mewujudkan peradaban terbaik penerus perjuangan Rasullullah SAW untuk kebaikan umat manusia. Semoga Allah SWT selalu Meridhai dan Melindungi langkah kita.

- Salam Hangat , Annisa Putri Aryati (Mahasiswi MIIP B7 - Regional Surabaya Raya)
#tugasPraNHW1 #MatrikulasiIIPB7

Selasa, 01 Mei 2018

Belajar Parenting Sejak Hari Ini : Urgensi Keluarga Dalam Pembangunan Bangsa

Keluarga adalah organisasi terkecil sekaligus pilar terpenting sebuah Negara. Menurut BKKN, Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami-isteri, atau suami-isteri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya (BKKBN, 1992).
Keluarga yang baik membentuk masyarakat yang baik, dan masyarakat yang baik membentuk Negara yang baik. Bahkan lebih dari itu, keluarga adalah pondasi dasar pembangun sebuah peradaban. Membangun keluarga berarti membangun peradaban.
Keluarga juga dapat disebut sebagai produsen utama manusia. Dari keluarga akan lahir anak-anak serta keturunan yang akan menambah jumlah sumber daya manusia suatu negara. Maka untuk membentuk calon penerus bangsa di masa depan, harus dipersiapkan saat membentuk keluarga.
Menciptakan keluarga yang harmonis dan berkarakter akan menjadi bibit-bibit dasar pembangun Negara di masa depan, karena dari keluargalah pemimpin bangsa lahir. Pemimpin bangsa tidak lahir dari camp-camp pelatihan yang berat, bukan dari kampus-kampus atau hutan belantara, tetapi setiap pemimpin selalu lahir dari keluarga. Keluarga yang berakhlak akan membentuk pribadi-pribadi yang berakhlak.
Untuk memenuhi hal tersebut, maka sudah sewajibnya penanggung jawab keluarga dalam hal ini ayah dan ibu haruslah memiliki kapabilitas dalam membentuk keluarga yang berakhlak. Tanggung jawab pembentukan karakter keluarga sudah seharusnya berada ditangan ayah dan ibu sebagai orang tua. Mereka harus mampu membuat sistem pendidikan yang baik di keluarga.
Awal dari terbentuknya satu keluarga dimulai dari adanya hubungan antara laki-laki dan perempuan yang bersepakat mengikat janji pernikahan. Pernikahan bukan hanya sekedar pemenuhan hasrat seksual yang merupakan fitrah manusia, namun di dalamnya juga terdapat tanggung jawab. Tanggung jawab atas keluarga yang dibentuk hingga tanggung jawab akan masa depan anak anak yang dilahirkan.
Secara fungsinya, berdasarkan Resolusi Majelis Umum PBB, “Keluarga sebagai wahana untuk mendidik, mengasuh dan sosialisasi anak, mengembangkan kemampuan seluruh anggotanya agar dapat menjalankan fungsinya di masyarakat dengan baik, serta memberikan kepuasan dan lingkungan sosial yang sehat guna tercapainya keluarga sejahtera.
Tugas dan tanggung jawab dalam mencapai keluarga sejahtera berada di tangan Ayah dan Ibu, bukan pada salah satunya, melainkan saling berbagi peran tanggung jawab. Oleh karena itu, pembentukan keluarga berkarakter memerlukan kolaborasi positif dari suami dan istri.
Kolaborasi itu terjewantahkan dalam bentuk visi dan misi keluarga yang akan dibentuk. Seperti yang telah disampaikan di awal bahwa keluarga adalah organisasi terkecil sebuah Negara, maka dalam pelaksanaannya haruslah dilakukan sebagaimana sebuah organisasi dijalankan, dimana ada visi dan misi di dalamnya.
Setiap individu harus memiliki visi dan misi keluarga yang akan dibentuk. Dan berkeluarga adalah mencari pasangan dengan visi yang searah serta misi yang sejalan sehingga adanya kolaborasi positif melalui pernikahan akan mempercepat laju pencapaian visi tersebut.
Pembekalan ilmu sebagai seorang Ayah dan Ibu
Setiap pasangan yang baru menikah, pastilah menginginkan anak anak yang berakhlak dan cerdas. Membentuk anak yang cerdas dan berkarakter tidak semudah membalikkan telapak tangan, ada proses panjang didalamnya.
Jika di analogikan posisi ayah dan ibu sebagai suatu profesi, sebagaimana profesi  lainnya seperti insinyur, dokter, polisi, maka profesi ayah dan ibu haruslah dipersiapkan sedini mungkin bahkan sejak si ayah dan ibu tersebut belum menikah. Gelar ayah dan ibu memang didapatkan saat si anak lahir namun keahlian/skill seorang ayah tidak ujug-ujug langsung didapatkan saat si anak lahir. Ada proses “menjadi” di dalamnya.
Menjadi orang tua haruslah dipelajari dan diasah, tentang bagaimana mendidik anak, mengetahui umur-umur produktif anak serta hal-hal lainnya harus sudah diketahui oleh seorang calon suami atau istri, agar tidak mulai belajar justru pada saat si anak lahir.
Seorang yang bercita-cita menjadi dokter pastilah akan mempersiapkan fisik dan mentalnya sebagai seorang dokter jauh-jauh hari sebelumnya, bahkan bertahun-tahun mempersiapkannya, mulai dari rajin belajar matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, fisika, kimia, dan biologi agar dapat lulus di fakultas kedokteran. Bahkan setelah masuk di fakultas kedokteran masih harus mempelajari perkuliahan dan praktik kedokteran dengan giat supaya dapat meraih gelar dokter dengan nilai yang baik yang nantinya akan menghasilkan dokter yang hebat.
Maka profesi seorang ayah atau seorang ibu haruslah juga dipersiapkan seperti mempersiapkan profesi seorang dokter bahkan harus lebih karena anak-anak akan menjadi tanggung jawab seorang ayah dan ibu dalam keluarga baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Profesi Ayah atau Ibu bukanlah profesi yang rendah, terutama seorang ibu. Banyak ditemukan hari ini bahwa profesi seorang ibu adalah profesi yang rendah, yang urusannya hanya seputar kasur, sumur dan dapur saja. Profesi seorang ibu adalah profesi yang mulia, profesi yang lebih tinggi dari profesi-profesi lainnya. Profesi dimana surga berada di kakinya, yang membuat  derajatnya tiga kali lebih tinggi dari seorang ayah, profesi yang melahirkan profesi-profesi lainnya. Maka menjadi seorang ibu adalah sebuah anugerah.
Pun dengan peran seorang Ayah, tidak melulu sekedar mencari nafkah lalu membiarkan Ibu mengerjakan semua pekerjaan rumah. Sebab tanggung jawab rumah adalah tanggung jawab bersama, maka Ayah dan Ibu sudah seharusnya saling berbagi peran, saling membantu dan bekerja sama agar terciptanya keharmonisan keluarga.
Bahkan tanggung jawab mendidik anak tetap berada di tangan ayah dan ibu. Walaupun saat ini sangat banyak sekolah-sekolah play group, baby sitter, pesantren dan lembaga pendidikan lainnya, hal itu tetap tidak akan bisa menggantikan fungsi ayah dan ibu sebagai pendidik utama anak-anak di keluarga. Oleh karena itu ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa ibu adalah sekolah utama dan pertama bagi seorang anak, dan ayah adalah kepala sekolahnya.
Pentingnya Pendidikan Parenting pada Pemuda
99.9 persen manusia pastilah memiliki keinginan untuk menikah, dan dari pernikahan tersebut tentu menginginkan lahirnya anak-anak yang cerdas serta berakhlak. Artinya, hampir setiap orang di muka bumi ini akan berprofesi sebagai ayah dan ibu. Apakah mereka itu dokter, polisi, insinyur dan lain lain, yang pasti dibalik semua profesi tersebut mereka pasti akan atau telah menjadi seorang ayah dan ibu. Dengan satu keniscayaan tersebut, maka sangat penting bagi setiap insan muda untuk mempersiapkan dirinya sebagai orang tua.
Menjadi orang tua tanpa bekal ilmu parenting sama saja seperti menjadi seorang dokter tanpa belajar ilmu kedokteran. Jika dokter tersebut mendapat pasien tentu pasien bisa saja meninggal dunia. Hal tersebut juga berlaku untuk profesi orang tua, menjadi orang tua tanpa bekal ilmu parenting tentu keluarga akan berantakan dan berakibat anak akan salah pendidikan.
Mempersiapkan diri menjadi orang tua harus dimulai sejak kecil. Sejak anak-anak mulai beranjak dewasa karena mereka akan menjadi orang tua di masa depan. Ada tantangan dan tanggung jawab besar di tangan mereka, karenanya orang tua harus menyiapkan otak dan pundak yang kuat untuk memikulnya.
Seorang Ayah atau Ibu harus memiliki ilmu sebagai Ayah dan Ibu juga, karena apabila sesuatu dipegang oleh orang yang tidak memiliki ilmu, maka tunggulah kehancurannya. Dan apabila profesi Ayah dan Ibu diawali tanpa ilmu, maka tunggulah waktu kehancuran keluarganya.
Belajar menjadi Ayah atau Ibu seperti sekali dayung dua tiga lampau pulau terlampaui. Dengan belajar menjadi Ayah dan Ibu berarti sekaligus belajar meng-upgrade karakter diri menjadi lebih baik. Pembelajaran terbaik untuk anak adalah memberikan contoh langsung oleh Ayah atau Ibu, maka dengan belajar menjadi Ayah dan Ibu sekaligus mengasah karakter diri menjadi lebih baik, juga mengasah anak berakhlak baik.
Tak ada kata terlambat untuk belajar. Untuk masa depan yang lebih baik, untuk masa depan negara yang cemerlang serta untuk peradaban yang lebih berakhlak dapat dimulai dari saat ini, dengan belajar ilmu-ilmu parenting. Mempersiapkan anak-anak yang cerdas dan berkarakter berarti menciptakan dunia yang indah bagi mereka di masa depan. Sayangi anak dengan mempelajari ilmu parenting.
Rahim Isnan Al Hilman
Kepala Bidang Riset dan Kajian ASA Muda Indonesia

Bunsay 6 : Pantulan Warna Zona 6-7-8