Sabtu, 09 Maret 2019

NHW#6 Kelas Matrikulasi IIP B-7: BELAJAR MENJADI MANAJER KELUARGA HANDAL

Bismillahirachmannirrochim…

Halo… Hola… Apakabar semua? Annisa doakan Semoga baik 😌, Aamiin. Semakin detik bergulir tak terasa hampir di hilir, dan pemahaman amanah menjadi Ibu Profesional kian mengalir (puisi bentar hehehe), nggk kerasa uda setengah perjalanan, Alhamdullillah masih strong untuk melawan rasa malas belajar menjadi calon ibu profesional. Yuk, yuk, yuk! Intip tugas NHW#5 nya, check it out!\

*BELAJAR MENJADI MANAJER KELUARGA HANDAL*

Bunda, sekarang saatnya kita masuk dalam tahap “belajar menjadi manajer keluarga yang handal. Mengapa? karena hal ini akan mempermudah bunda untuk menemukan peran hidup kita dan semoga mempermudah bunda mendampingi anak-anak menemukan peran hidupnya.

Ada hal-hal yang kadang mengganggu proses kita menemukan peran hidup yaitu RUTINITAS. Menjalankan pekerjaan rutin yang tidak selesai, membuat kita “Merasa Sibuk”, sehingga kadang tidak ada waktu lagi untuk proses menemukan diri.

Maka ikutilah tahapan-tahapan sbb :
Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting
Waktu anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?
Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup anda, tengok NHW sebelumnya ya, agar selaras.
Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi cut off time ( misal anda sudah menuliskan bahwa bersih-bersih rumah itu dari jam 05.00-06.00, maka patuhi waktu tersebut)

Jangan ijinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian anda.

Setelah tahap di atas selesai anda tentukan. Buatlah jadwal harian yang paling mudah anda kerjakan. (Contoh kalau saya membuat jadwal rutin saya masukkan di subuh-jam 07.00 – jadwal dinamis ( memperbanyak jam terbang dari jam 7 pagi- 7 malam, setelah jam 7 malam kembali ke aktivitas rutin yang belum selesai. sehingga muncul program 7 to 7)

Amati selama satu minggu pertama, apakah terlaksana dengan baik?
kalau tidak segera revisi, kalau baik, lanjutkan sampai dengan 3 bulan.

SELAMAT MENGERJAKAN

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/

Oke, time to do Nice Home Work #6
1.    Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting!
3 aktivitas yang penting:
Ø  Beribadah (sholat, mengaji, dan berdzikir),
Ø  Mengabdi kepada orang tua (mengerjakan tugas domestik rumah),
Ø  Membaca buku dan mendengarkan kajian/seminar islami, motivasi, dan parenting
3 aktivitas yang tidak penting
Ø  Berselancar di sosial media
Ø  Menonton  tv
Ø  Tidur

2.    Waktu anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?
3 aktivitas penting dan 3 aktivitas tidak penting keduanya seimbang menghabiskan waktu saya, tetapi seringnya dihabiskan pada 3 aktivitas penting.

3.    Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup anda, tengok NHW sebelumnya ya, agar selaras.
ü  Beribadah
-          Sholat 5 waktu tepat waktu
-          Qiyamul lail setiap hari
-          Puasa Sunnah senin-kamis
-          Membaca Al-Qur’an 1 juz/hari
-          Almatsurat pagi dan malam
-          Solat Sunnah rawatib minimal qobliyah subuh, ba’da ashar, dan ba’da maghrib
-          Mendengarkan kajian dari mp3/youtube minimal 1x/hari
-          Mengikuti kajian rutin minimal 1 kali/minggu
ü  Mengabdi kepada orang tua
-          Memasak nasi untuk sarapan
-          Memasak makanan untuk sarapan, makan siang, dan makan malam
-          Belanja bahan makanan dan kebutuhan sehari-hari
-          Memasak air untuk minuman orang tua
-          Mencuci piring
-          Menyapu rumah
-          Mencuci baju 3x/minggu
-          Menyetrika 3x/hari
-          Memijat ayah/ibu jika diminta
ü  Membaca dan mendengar
-          Membaca buku tentang parenting minimal 1x/bulan
-          Menghadiri seminar parenting minimal 1x/bulan atau mendengarkan dari youtube jika tidak ada seminar dalam satu bulan terakhir di kota tempat tinggal
-          Mendengarkan kajian terkait parenting
-          Mengikuti tahapan-tahapan kelas matrikulasi institute ibu profesional

4.    Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi cut off time ( misal anda sudah menuliskan bahwa bersih-bersih rumah itu dari jam 05.00-06.00, maka patuhi waktu tersebut)
Untuk “kandang waktu” saya membagi dua tabel, Yaitu tabel “weekdays” dan “weekend”.
*      Tabel Weekdays
Kandang waktu
Aktivitas
Lain-lain
03.00 – 04.00
Ø  Bangun tidur
Ø  Mandi dan wudhu
Ø  Sholat malam
Ø  Membaca Al-Qur’an
Ø  Dzikir
Ø  Memasak nasi

04.00 – 05.00
Ø  Sholat subuh
Ø  Membaca Al-Qur’an
Ø  Dzikir almatsurat

05.00 – 06.30
Ø  Bersepedah (minggu, selasa, kamis, jumat)
Ø  Sarapan (selain senin dan kamis jika tidak sedang haid)
Cuci baju keluarga (senin, rabu, sabtu) sekaligus mendengarkan kajian islami
06.30 – 07.00
Ø  Berbelanja sayuran dan bahan makanan lain

07.00 – 09.00
Ø  Memasak makanan
Ø  Menyapu
Ø  Mencuci piring

09.00 – 10.00
Ø  Sholat dhuha
Ø  Membaca Al-Qur’an

10.00 – 11.30
Ø  Istirahat santai dengan membaca buku parenting

11.30 – 12.30
Ø  Sholat dhuhur
Ø  Membaca Al-Qur’an

12.30 – 14.00
Ø  Makan siang (selain senin dan kamis jika tidak sedang haid)
Ø  Tidur siang

14.00 – 15.00
Ø  Setrika baju

15.00 - 16.00
Ø  Mandi
Ø  Sholat ashar
Ø  Dzikir almatsurat
Ø  Membaca Al-Qur’an

16.00 – 17.00
Ø  Menyiapkan makan malam
Ø  Memasak air

17.00 – 17.45
Ø  Membaca buku parenting atau
Ø  Mendengarkan seminar terkait parenting atau pengembangan diri lainnya atau kajian islam di youtube

17.45 – 18.30
Ø  Sholat maghrib
Ø  Membaca Al-Qur’an

18.30 – 19.00
Ø  Makan malam
Ø  Berbincang-bincang dengan keluarga

19.00 – 19.30
Ø  Sholat isya
Ø  Membaca Al-Qur’an

19.30 – 21.00
Ø  On wa kelas matrikulasi (senin-sabtu)
Ø  Jika hari minggu memanfaatkan dengan family time
21.00 – 03.00
Ø  Tidur malam


*      Tabel weekend (Hari Minggu)
Kandang waktu
Aktivitas
Lain-lain
03.00 – 04.00
Ø  Bangun tidur
Ø  Mandi dan wudhu
Ø  Sholat malam
Ø  Membaca Al-Qur’an
Ø  Dzikir
Ø  Memasak nasi

04.00 – 05.00
Ø  Sholat subuh
Ø  Membaca Al-Qur’an
Ø  Dzikir almatsurat

05.00 – 06.30
Ø  Bersepedah (minggu, selasa, kamis, jumat)
Ø  Sarapan (selain senin dan kamis jika tidak sedang haid)
Cuci baju keluarga (senin, rabu, sabtu) sekaligus mendengarkan kajian islami
06.30 – 07.00
Ø  Shalat dhuha

07.00 – 11.30
Ø  Family time

11.30 – 12.30
Ø  Sholat dhuhur
Ø  Membaca Al-Qur’an

12.30 – 14.00
Ø  Makan siang (selain senin dan kamis jika tidak sedang haid)
Ø  Tidur siang

14.00 – 15.00
Ø  Setrika baju

15.00 - 16.00
Ø  Mandi
Ø  Sholat ashar
Ø  Dzikir almatsurat
Ø  Membaca Al-Qur’an

16.00 – 17.00
Ø  Menyiapkan makan malam
Ø  Memasak air

17.00 – 17.45
Ø  Membaca buku parenting atau buku pengembangan diri lainnya
Ø  Mendengarkan seminar terkait parenting atau kajian islam di youtube

17.45 – 18.30
Ø  Sholat maghrib
Ø  Membaca Al-Qur’an

18.30 – 19.00
Ø  Makan malam
Ø  Berbincang-bincang dengan keluarga

19.00 – 19.30
Ø  Sholat isya
Ø  Membaca Al-Qur’an

19.30 – 21.00
Ø  hari minggu memanfaatkan dengan family time

21.00 – 03.00
Ø  Tidur malam


5.    Jangan ijinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian anda.
  • Bismillah, semoga diistiqomahkan menjaga jadwal harian ini.


6.    Setelah tahap di atas selesai anda tentukan. Buatlah jadwal harian yang paling mudah anda kerjakan.
Saya merencanakan program 10 to 8
Waktu
Kegiatan
03.00-10.00
Aktivitas rutin
10.00-19.00
Aktivitas rutin dan dinamis
19.00-20.00
Aktivitas rutin dan dinamis

7.    Amati selama satu minggu pertama, apakah terlaksana dengan baik?
kalau tidak segera revisi, kalau baik, lanjutkan sampai dengan 3 bulan.
Bismillah siap, Insya’Allah.

Jadwal ini akan berubah jika sudah diamanahi Allah SWT mendapat gelar seorang istri dan seorang ibu.
Baik, terimakasih sudah berkunjung dan membaca My Nice Homework –ku, semoga bermanfaat, oiya dapat senyuman manis 😍 nih dariku.

- Salam Hangat, Annisa Putri Aryati (Mahasiswi MIIP B7 – Regional Surabaya Raya)
#TugasNHW6 #MatrikulasiIIPB7


Sabtu, 02 Maret 2019

Sosok Ibu Pendiri Institut Ibu Profesional

Siapa yang tidak ingin menjadi Ibu seperti Septi Peni Wulandani?



Tiga anaknya tidak sekolah di sekolah formal layaknya anak-anak pada umumnya. Tapi ketiganya mampu menjadi anak teladan, dua di antaranya sudah kuliah di luar negeri di usia yang masih sangat muda. Saya cuma berdecak gemetar mendengarnya. Bagaimana bisa?

Namanya Ibu Septi Peni Wulandani. Kalau kita search nama ini di google, kalian akan tahu bahwa Ibu ini dikenal sebagai Kartini masa kini. Beliau seorang ibu rumah tangga profesional, penemu model hitung jaritmatika, juga seorang wanita yang amat peduli pada nasib ibu-ibu di Indonesia.

Seorang wanita yang ingin mengajak wanita Indonesia kembali ke fitrahnya sebagai wanita seutuhnya. Beliau bercerita kiprahnya sebagai ibu rumah tangga yang mendidik tiga anaknya dengan cara yang bahasa kerennya anti mainstream. It’s like watching 3 Idiots. But this is not a film. This is a real story from Salatiga, Indonesia.

Semuanya berawal saat beliau memutuskan untuk menikah. Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa pernikahan adalah peristiwa peradaban, untuk kisah Ibu Septi, pepatah itu tepat sekali. Di usianya yang masih 20 tahun, Ibu Septi sudah lulus dan mendapat SK sebagai PNS. Di saat yang bersamaan, beliau dilamar oleh seseorang. Beliau memilih untuk menikah, menerima lamaran tersebut.

Namun sang calon suami mengajukan persyaratan: beliau ingin yang mendidik anak-anaknya kelak hanyalah ibu kandungnya. Artinya? Beliau ingin istrinya menjadi seorang ibu rumah tangga. Harapan untuk menjadi PNS itu pun pupus. Beliau tidak mengambilnya. Ibu Septi memilih menjadi ibu rumah tangga. Baru sampai cerita ini saja saya sudah gemeteran. Akhirnya beliau pun menikah.

Pernikahan yang unik. Sepasang suami istri ini sepakat untuk menutup semua gelar yang mereka dapat ketika kuliah. Aksi ini sempat diprotes oleh orang tua, bahkan di undangan pernikahan mereka pun tidak ada tambahan titel/ gelar di sebelah nama mereka. Keduanya sepakat bahwa setelah menikah mereka akan memulai kuliah di universitas kehidupan. Mereka akan belajar dari mana saja.

Pasangan ini bahkan sering ikut berbagai kuliah umum di berbagai kampus untuk mencari ilmu. Gelar yang mereka kejar adalah gelar almarhum dan almarhumah. Subhanallah……Tentu saja tujuan mereka adalah khusnul khatimah. Sampai di sini, sudah kebayang kan bahwa pasangan ini akan mencipta keluarga yang keren? Ya, keluarga ini makin keren ketika sudah ada anak-anak hadir melengkapi kehidupan keluarga.

Dalam mendidik anak, Ibu Septi menceritakan salah satu prinsip dalam parenting adalah demokratis, merdekakan apa keinginan anak-anak. Begitu pun untuk urusan sekolah. Orang tua sebaiknya memberikan alternatif terbaik, lalu biarkan anak yang memilih. Ibu Septi memberikan beberapa pilihan sekolah untuk anaknya: mau sekolah favorit A? Sekolah alam? Sekolah bla bla bla. Atau tidak sekolah? Dan wow, anak-anaknya memilih untuk tidak sekolah. Tidak sekolah bukan berarti tidak mencari ilmu kan?

Ibu Septi dan keluarga punya prinsip: Selama Allah dan Rasul tidak marah, berarti boleh. Yang diperintahkan Allah dan Rasul adalah agar manusia mencari ilmu. Mencari ilmu tidak melulu melalui sekolah kan? Uniknya, setiap anak harus punya project yang harus dijalani sejak usia 9 tahun. Dan hasilnya?

Enes, anak pertama. Ia begitu peduli terhadap lingkungan, punya banyak project peduli lingkungan, memperoleh penghargaan dari Ashoka, masuk koran berkali-kali. Saat ini usianya 17 tahun dan sedang menyelesaikan studi S1nya di Singapura. Ia kuliah setelah SMP, tanpa ijazah. Modal presentasi. Ia kuliah dengan biaya sendiri bermodal menjadi seorang financial analyst. Bla bla bla banyak lagi. Keren banget.

Saat kuliah di tahun pertama ia sempat minta dibiayai orang tua, namun ia berjanji akan menggantinya dengan sebuah perusahaan. Subhanallah. Uang dari orang tuanya tidak ia gunakan, ia memilih menjual makanan door to door sambil mengajar anak-anak untuk membiayai kuliahnya.

Ara, anak kedua. Ia sangat suka minum susu dan tidak bisa hidup tanpa susu. Karena itu, ia kemudian berternak sapi. Pada usianya yang masih 10 tahun, Ara sudah menjadi pebisnis sapi yang mengelola lebih dari 5000 sapi. Bisnisnya ini konon turut membangun suatu desa. WOW! Sepuluh tahun gue masih ngapain? Dan setelah kemarin kepo, Ara ternyata saat ini juga tengah kuliah di Singapura menyusul sang kakak.

Elan, si bungsu pecinta robot. Usianya masih amat belia. Ia menciptakan robot dari sampah. Ia percaya bahwa anak-anak Indonesia sebenarnya bisa membuat robotnya sendiri dan bisa menjadi kreatif. Saat ini, ia tengah mencari investor dan terus berkampanye untuk inovasi robotnya yang terbuat dari sampah. Keren!! Saya cuma menunduk, what I’ve done until my 20. Banyak juga peserta yang lalu bertanya, “kenapa cuma 3, Bu?” hehe.

Dari cerita Ibu Septi sore itu, saya menyimpulkan beberapa rahasia kecil yang dimiliki keluarga ini, yaitu:

Anak-anak adalah jiwa yang merdeka, bersikap demokratis kepada mereka adalah suatu keniscayaan.
Anak-anak sudah diajarkan tanggung jawab dan praktik nyata sejak kecil melalui project. Seperti yang saya bilang tadi, di usia 9 tahun, anak-anak Ibu Septi sudah diwajibkan untuk punya project yang wajib dilaksanakan. Mereka wajib presentasi kepada orang tua setiap minggu tentang project tersebut.
Meja makan adalah sarana untuk diskusi. Di sana mereka akan membicarakan tentang ‘kami’, tentang mereka saja, seperti sudah sukses apa? Mau sukses apa? Kesalahan apa yang dilakukan? Oh ya, keluarga ini juga punya prinsip, “Kita boleh salah, yang tidak boleh itu adalah tidak belajar dari kesalahan tersebut”. Bahkan mereka punya waktu untuk merayakan kesalahan yang disebut dengan “false celebration”.
Rasulullah SAW sebagai role model. Kisah-kisah Rasul diulas. Pada usia sekian Rasul sudah bisa begini, maka di usia sekian berarti kita juga harus begitu. Karena alasan ini pula Enes memutuskan untuk kuliah di Singapura, ia ingin hijrah seperti yang dicontohkan Rasulullah. Ia ingin pergi ke suatu tempat di mana ia tidak dikenal sebagai anak dari orang tuanya yang memang sudah terkenal hebat.
Mempunyai vision board dan vision talk. Mereka punya gulungan mimpi yang dibawa ke mana-mana. Dalam setiap kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat, mereka akan share mimpi-mimpi mereka. Prinsip mimpi: Dream it, share it, do it, grow it!
Selalu ditanamkan bahwa belajar itu untuk mencari ilmu, bukan untuk mencari nilai.
Mereka punya prinsip harus jadi entrepreneur. Bahkan sang ayah pun keluar dari pekerjaannya di suatu bank dan membangun berbagai bisnis bersama keluarga. Apa yang ia dapat selama bekerja ia terapkan di bisnisnya.
Punya cara belajar yang unik. Selain belajar dengan cara homeschooling di mana ibu sebagai pendidik, belajar dari buku dan berbagai sumber, keluarga ini punya cara belajar yang disebut Nyantrik. Nyantrik adalah proses belajar hebat dengan orang hebat. Anak-anak akan datang ke perusahaan besar dan mengajukan diri menjadi karyawan magang. Jangan tanya magang jadi apa ya, mereka magang jadi apa aja. Ngepel, membersihkan kamar mandi, apapun. Mereka pun tidak meminta gaji. Yang penting, mereka diberi waktu 15 menit untuk berdiskusi dengan pemimpin perusahaan atau seorang yang ahli setiap hari selama magang.
Hal terpenting yang harus dibangun oleh sebuah keluarga adalah kesamaan visi antara suami dan istri. That’s why milih jodoh itu harus teliti. Hehe… Satu cinta belum tentu satu visi, tapi satu visi pasti satu cinta.
Punya kurikulum yang keren, di mana pondasinya adalah iman, akhlak, adab, dan bicara.
Di-handle oleh ibu kandung sebagai pendidik utama. Ibu bertindak sebagai ibu, partner, teman, guru, semuanya. Daaaan masih banyak lagi.
Hhhhmmm… Gimana? Profesi ibu rumah tangga itu profesi yang keren banget bukan? Ia adalah kunci awal terbentuknya generasi brilian bangsa.

Saya ingat cerita Ibu Septi di awal kondisi beliau menjadi ibu rumah tangga. Saat itu beliau iri melihat wanita sebayanya yang berpakaian rapi pergi ke kantor sedangkan beliau hanya mengenakan daster. Jadilah beliau mengubah style-nya. Jadi Ibu rumah tangga itu keren, jadi tampilannya juga harus keren, bahkan punya kartu nama dengan profesi paling mulia: housewife.

So, masih zaman berpikiran bahwa ibu rumah tangga itu sebatas sumur, kasur, lalala yang haknya terinjak-injak dan melanggar HAM? Duh please, housewife is the most presticious career for a woman, right? Tapi semuanya tetap pilihan. Dan setiap pilihan punya konsekuensi. Jadi apapun kita, semoga tetap menjadi pendidik hebat untuk anak-anak generasi bangsa.

Dari kisah di atas, saya juga menarik kesimpulan bahwa seminar kepemudaan tidak melulu bahas tentang organisasi, isu-isu negara, dan lain-lain yang biasa dibahas. Pemuda juga perlu belajar ilmu parenting untuk bekal dalam mendidik generasi penerus bangsa ini. Bukankah dari keluarga karakter anak itu terbentuk?

Sumber : Kompasiana
Ibu Septi Peni Wulandari adalah founder Instutut Ibu Profesional

Bunsay 6 : Pantulan Warna Zona 6-7-8